Menperin Tegaskan Industri Otomotif Indonesia Tumbuh Kuat di GIIAS 2026
Pemerintah optimistis pertumbuhan industri otomotif nasional semakin kuat sepanjang 2026, didukung oleh peningkatan produksi dan penjualan kendaraan serta momentum Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, yang dibuka Kamis, 30 Juli 2026.
GIIAS 2026 diikuti oleh 68 merek otomotif, naik dari 63 merek tahun sebelumnya, menjadi salah satu penggerak penting pasar otomotif pada semester kedua tahun ini.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa GIIAS bukan hanya ajang peluncuran kendaraan baru maupun transaksi penjualan, tetapi juga menjadi penggerak kebangkitan industri otomotif nasional di tengah tantangan ekonomi global.
"GIIAS 2026 bukan hanya ajang pameran atau transaksi kendaraan, tetapi juga ajang membangkitkan industri otomotif nasional. Kami mengapresiasi bahwa pameran ini setiap tahun diselenggarakan dan selalu menciptakan sejarah baru," ujar Agus saat meresmikan pembukaan GIIAS 2026.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil secara wholesales Januari-Juni 2026 mencapai 436.564 unit, naik 15,9 persen secara tahunan, sementara penjualan ritel mencapai 433.848 unit atau naik 10,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Agus menyebut target produksi nasional 850 ribu unit hingga akhir tahun masih realistis dengan tren perbaikan industri yang kuat. Ia menambahkan Indonesia sedang bertransformasi dari basis pasar menjadi basis produksi otomotif.
"Indonesia sedang dalam proses berpindah dari yang awalnya basis pasar menjadi basis produksi," kata Agus.
Menperin juga menyoroti rasio kepemilikan mobil di Indonesia yang masih rendah, sekitar 19 unit per 1.000 penduduk, jauh di bawah Thailand yang 275 unit dan Malaysia 490 unit per 1.000 penduduk.
"Jumlah itu hampir sepertiga dari seluruh pasar domestik kita pada hari ini," kata Agus, menjelaskan bahwa kenaikan satu unit rasio kepemilikan mobil per 1.000 penduduk berpotensi menambah permintaan 280 ribu kendaraan.
Agus menegaskan pemerintah tidak memosisikan satu teknologi otomotif sebagai lawan teknologi lain dalam transformasi industri.
"Kami tidak dalam posisi menempatkan satu teknologi, sebagai lawan dari teknologi lain, kendaraan listrik berbasis baterai, kendaraan hibrida, mesin pembakaran internal yang semakin efisien, serta pemanfaatan biodiesel dan bioetanol, seluruhnya jalan menuju tujuan sama, yaitu emisi yang lebih rendah dan ketahanan energi yang lebih kuat. Yang kita percepat adalah tujuannya," ujar Agus.
Ia menambahkan bahwa tantangan utama bukan memilih teknologi dominan di masa depan, melainkan memastikan industri dalam negeri memperoleh manfaat ekonomi maksimal dari perkembangan teknologi tersebut.
"Transisi yang tidak disertai pendalaman industri hanya akan memindahkan ketergantungan kita dari satu bentuk impor kepada bentuk impor yang lain. Itu bukan transformasi," kata Agus.
Dalam kesempatan yang sama, Agus meminta para agen pemegang merek dan pelaku industri mempercepat realisasi investasi kendaraan bermotor rendah emisi. Total komitmen investasi mencapai Rp 21,2 triliun, namun realisasi baru Rp 5,5 triliun.
"Saya tentu menghargai capaian Rp 5,5 triliun tersebut, namun izinkan saya menyampaikan secara terbuka bahwa kami semua masih menunggu komitmen Rp 21,2 triliun tersebut bisa terwujud," ujar Agus.
Program kendaraan bermotor emisi karbon rendah yang berjalan sejak 2021 mendorong pertumbuhan industri komponen dalam negeri hingga 127 persen dan menyerap sekitar 195.000 tenaga kerja langsung. Tingkat kandungan dalam negeri kendaraan elektrifikasi saat ini rata-rata 40-46 persen, bahkan ada merek yang sudah mencapai 80 persen.
Transformasi ke kendaraan rendah emisi juga tercermin dari penjualan kendaraan elektrifikasi yang meningkat pesat, mencapai 117 ribu unit pada semester I 2026 atau naik 69,4 persen secara tahunan, kata Agus.
"Artinya, satu dari setiap empat mobil penumpang yang dibeli masyarakat Indonesia saat ini sudah merupakan kendaraan elektrifikasi. Lima tahun lalu angka itu bahkan belum terlihat," ujar Agus saat membuka GIIAS 2026.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara memperkirakan penjualan mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) terus meningkat, dengan penjualan wholesale Januari-Mei 2026 mencapai 2.601 unit, melonjak 416,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kukuh mengatakan PHEV diminati karena fleksibilitas menggunakan bahan bakar fosil, mengatasi keterbatasan infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang masih terkonsentrasi di kota besar.
Wakil Ketua Bidang Pengembangan dan Penelitian Periklindo Prabowo Kartoleksono mencatat penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) juga naik signifikan, mencapai 57.087 unit Januari-Mei 2026 atau tumbuh 80 persen dibanding periode sama tahun lalu.
"Lonjakan tersebut didorong oleh semakin agresifnya produsen menghadirkan kendaraan listrik dengan teknologi lebih canggih dan harga kompetitif. Bahkan kadang bisa lebih murah dibanding kendaraan bensin sekelasnya," kata Prabowo.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow