Matthias Jaissle Latih Newcastle United dan Ubah Strategi Klub

Smallest Font
Largest Font

Manajemen Newcastle United resmi menunjuk Matthias Jaissle sebagai manajer baru menggantikan Eddie Howe yang mengundurkan diri. Penunjukan juru taktik asal Jerman berusia 38 tahun tersebut menandai awal era baru klub yang kini mengusung strategi pengembangan pemain muda.

Langkah penunjukan Jaissle dilakukan setelah Eddie Howe memutuskan mundur dari jabatannya menyusul performa tim yang finis di posisi ke-12 klasemen Liga Inggris musim 2025-2026. Keputusan mundur Howe mengakhiri masa bakti selama 4,5 tahun sejak November 2021.

Jaissle menduduki kursi kepelatihan setelah mengantar Al-Ahli merengkuh dua gelar Liga Champions Asia secara beruntun. Sebelum berkarier di Arab Saudi, mantan pelatih FC Liefering itu sukses membawa RB Salzburg meraih trofi Liga Austria.

Di bawah kepemimpinan baru, Newcastle United mengubah haluan di bursa transfer akibat regulasi Profit and Sustainability Rules Premier League serta UEFA Financial Fair Play. Klub menjual sejumlah pemain pilar seperti Sandro Tonali ke Tottenham Hotspur senilai 108 juta euro dan Anthony Gordon ke FC Barcelona seharga 80 juta euro.

Sebagai gantinya, Newcastle mendatangkan amunisi muda seperti Bazoumana Toure dari TSG Hoffenheim seharga 50 juta euro serta Aladji Bamba dari Monaco senilai 34 juta poundsterling. Pada laga uji coba pramusim di Stadion Mestalla, Newcastle memetik kemenangan 2-1 atas Valencia lewat dua gol penyerang Yoane Wissa.

Sebelum meninggalkan posisinya, Howe menyampaikan salam perpisahan usai evaluasi personal.

"Setelah periode refleksi pribadi, saya telah memutuskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat bagi saya untuk mundur dari peran saya," kata Howe, dilansir dari BBC.

Howe menambahkan bahwa masa rehat dibutuhkan untuk memulihkan energinya setelah mendedikasikan waktu penuh bagi klub.

"Setelah hampir lima tahun memberikan hidup, hati, dan jiwa saya untuk klub dengan energi yang tak kenal lelah, saya merasa bahwa ini adalah yang terbaik bagi saya dan klub untuk mundur, mengisi ulang energi, dan beristirahat," ujar Howe.

Ia meyakini langkah mundur ini sebagai keputusan tepat bagi perjalanan kariernya.

"Meskipun sangat sulit untuk membuat keputusan ini, saya tahu dalam hati saya bahwa ini adalah keputusan yang tepat," kata Howe.

Eks pelatih Bournemouth itu juga mengenang perjalanan kepelatihannya selama menangani The Magpies.

"Merupakan suatu kehormatan terbesar dalam hidup saya untuk menjadi manajer Newcastle United," kata Howe.

Howe mengingat momen bangkitnya tim dari zona degradasi hingga mampu menembus panggung Eropa.

"Ada begitu banyak momen luar biasa selama kami berada di sini. Dari berjuang menghindari degradasi di musim pertama kami hingga berbagai malam tak terlupakan di St James' Park di Liga Champions tak lama kemudian. Perkembangannya sangat cepat," ujar Howe.

Semangat kebersamaan tim menjadi kenangan mendalam bagi dirinya.

"Semua orang bersatu, dan betapa hebatnya kekuatan yang kami miliki," kata Howe.

Pengalaman membesut klub tersebut menjadi memori berharga sepanjang hidupnya.

"Semua ini adalah kenangan yang akan saya hargai seumur hidup saya," ujar Howe.

Meski mengundurkan diri, Howe tetap menyampaikan optimisme terhadap prospek Newcastle.

"Saya tetap sangat positif dan antusias tentang masa depan Newcastle," kata Howe.

Ia yakin jajaran manajemen dan suksesornya mampu mempertahankan kesinambungan prestasi klub.

"Klub ini berada di tangan yang fantastis dengan tim kepemimpinan yang hebat dan saya tidak ragu bahwa bersama-sama, dengan siapa pun yang datang untuk menggantikan saya, mereka akan terus memberikan kesuksesan di lapangan," ujar Howe.

Chief Executive Newcastle David Hopkinson mengonfirmasi penyesuaian arah klub menuju era baru yang dinamakannya Newcastle 2.0.

"Itu masa yang luar biasa, tetapi kami hidup melampaui kemampuan kami. Pada akhirnya, tagihan kartu kredit memang harus dibayar," kata Hopkinson.

Ia menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat untuk melangkah ke depan.

"Kami bergerak maju dengan cara yang berkelanjutan," ujar Hopkinson.

Hopkinson menjamin perubahan pendekatan ini akan membentuk tim yang lebih kompetitif.

"Kami menyesuaikan diri dengan realitas kami. Tetapi dari titik ini kami akan membuat lompatan besar ke depan dan mencapai posisi di mana kami bisa menang secara reguler. Newcastle 2.0 akan muda, lapar, ambisius, dan tanpa ampun," kata Hopkinson.

Pihak manajemen turut menyampaikan rasa terima kasih atas dedikasi yang ditunjukkan oleh kepemimpinan Howe selama ini.

"Eddie dan stafnya pergi dengan rasa terima kasih yang mendalam," ujar Hopkinson.

Manajemen mengapresiasi kontribusi Howe yang membawa klub menjuarai Piala Liga musim 2024-2025.

"Meskipun kami tentu saja kecewa melihat Eddie pergi, kami tetap sangat berterima kasih atas semua yang telah ia lakukan untuk klub," kata Hopkinson.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed