Luca Marini Soroti Kepadatan Kalender Balap MotoGP 2026
Pembalap Honda Luca Marini menyuarakan keprihatinannya terkait kalender balap MotoGP 2026 yang dinilai terlalu padat. Marini menegaskan bahwa persoalan utama terletak pada jarak antar-seri yang sangat rapat sehingga mengikis jeda istirahat serta masa persiapan fisik pembalap.
Rangkaian jadwal resmi MotoGP 2026 sejatinya dirancang sebanyak 22 seri. Namun, dilansir dari Detik Sport, jumlah tersebut berpotensi berkurang menjadi 21 seri apabila Grand Prix Qatar batal digelar. Balapan di Sirkuit Lusail tersebut sedianya berlangsung April, tetapi digeser ke 8 November akibat konflik di Timur Tengah.
Musim balap diproyeksikan berakhir di Valencia pada 29 November. Namun, para pembalap sudah harus turun ke lintasan hanya dua hari berselang untuk mengikuti tes resmi Valencia guna menyongsong musim 2027, sebelum dilanjutkan dengan tes di Malaysia dan Thailand pada akhir Januari.
Kepadatan agenda ini dinilai merugikan kondisi fisik dan mental para atlet di grid.
"Menurut saya, jadwal sepanjang tahun ini tidak ideal. Saya pikir kita seharusnya menjadwalkan balapan lebih berdekatan dan sebagai gantinya mencoba membuat jeda yang lebih panjang pada musim dingin," kata Marini kepada SPEEDWEEK.com.
Marini menjelaskan bahwa jeda musim dingin saat ini tidak lagi berfungsi sebagai masa pemulihan tubuh yang optimal.
"Di satu sisi, saya menikmati waktu di paddock; selama musim balapan, semuanya sempurna karena selalu berada di sana. Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sini jika itu berarti kami memiliki jeda musim dingin yang benar-benar cukup," ujar Marini.
Minimnya waktu luang di luar lintasan juga dinilai menghambat proses pengembangan fisik dan teknis pembalap secara berkelanjutan.
"Faktanya, saat ini kami sama sekali tidak punya waktu. Tidak ada waktu untuk benar-benar memulihkan diri, dan yang lebih penting, tidak ada waktu untuk mempersiapkan diri secara khusus menghadapi musim berikutnya; tidak ada waktu untuk terus berkembang," kata Marini.
Tanpa adanya jeda kompetisi yang memadai, pembalap terpaksa terus menjalani latihan intensif sepanjang tahun tanpa henti.
"Dengan kalender saat ini, tidak ada jeda sama sekali. Saya berlatih sepanjang tahun. Dengan jadwal saat ini, tidak mungkin untuk tidak melakukan apa pun bahkan untuk sesaat," ujar Marini.
Absennya masa rehat yang ideal juga menyulitkan proses penanganan cedera lama serta pelaksanaan program fisioterapi jangka panjang.
"Saya membutuhkan seluruh energi saya untuk siap bertanding, tetapi saya ingin memiliki lebih banyak waktu untuk menangani cedera lama dengan lebih menyeluruh, misalnya. Saya juga ingin meningkatkan kondisi fisik dari musim ke musim, tetapi itu membutuhkan waktu untuk program fisioterapi khusus," kata Marini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow