Legenda Sepak Bola Kritik Performa Declan Rice di Piala Dunia 2026
Gelandang Timnas Inggris Declan Rice menuai kritik tajam dari sejumlah legenda sepak bola setelah The Three Lions disingkirkan Argentina dengan skor 1-2 pada babak semifinal Piala Dunia 2026.
Kekalahan dramatis tersebut memicu sorotan terhadap lini tengah Inggris yang dinilai kurang memiliki kreativitas serta ketenangan dalam mengontrol tempo permainan saat menghadapi tekanan lawan.
Dilansir dari Kompas.com, mantan kapten Liverpool Graeme Souness menilai bahwa gelandang Arsenal berusia 27 tahun tersebut memiliki keterbatasan visi bermain yang membuatnya lebih cocok ditarik mundur menjadi pemain bertahan.
"Salah satunya masih sangat muda, 22 tahun, jadi punya peluang untuk berkembang," kata Graeme Souness.
Souness berpendapat bahwa kapasitas bermain sang gelandang sudah tidak bisa ditingkatkan lagi karena telah mencapai batas tertinggi dalam kariernya.
"Declan tidak akan berkembang lebih jauh, dia sudah mencapai batas kemampuannya di usia 27 tahun," cetus Graeme Souness.
Mantan manajer Liverpool tersebut juga menyoroti bagaimana gaya operan para gelandang Inggris tidak mampu memberikan ancaman yang berarti bagi lini pertahanan tim lawan.
"Saya tidak melihat cukup banyak permainan sepak bola dalam diri mereka, saya melihat mereka sebagai pemain yang hanya mengoper bola. Saya tidak melihat mereka mampu melukai lawan," tegas Graeme Souness.
Dalam analisisnya, Souness membandingkan performa tersebut dengan gelandang Timnas Spanyol, Rodri, yang dinilai tampil luar biasa saat menumbangkan Perancis di laga sebelumnya.
"Jika Anda menginginkan kebalikannya, malam sebelumnya ketika Spanyol mengalahkan Perancis kita melihat pemain terbaik di dunia, Rodri," ujar Graeme Souness.
Ia memuji kemampuan Rodri yang tetap tenang mengendalikan jalannya pertandingan meskipun timnya sedang berada dalam posisi unggul atas lawan.
"Mereka unggul satu gol dan dia masih mampu mengendalikan permainan. Dia adalah pemain lini tengah sejati," puji Graeme Souness.
Berdasarkan keterbatasan visi tersebut, Souness menyarankan agar Rice dipindahkan ke posisi bek tengah untuk mengoptimalkan potensi fisiknya.
"Bagi saya, Rice memiliki keterbatasan. Anda mendengar orang-orang berbicara tentang Rice sebagai pemain sepak bola kelas dunia. Saya pikir dia mungkin lebih cocok sebagai bek tengah," kata Graeme Souness.
Meski mengkritik aspek teknis permainan, Souness tetap memberikan apresiasi terhadap etos kerja keras serta dedikasi fisik yang ditunjukkan mantan kapten West Ham United tersebut.
"Tidak ada yang perlu dikritik dari sikapnya terhadap permainan dan kemampuan atletiknya," ungkap Graeme Souness.
Souness menambahkan bahwa komitmen sang pemain sepanjang laga tidak perlu diragukan, namun naluri sepak bolanya dinilai masih sangat kurang.
"Tidak ada yang perlu dikritik dari komitmennya dari menit pertama hingga menit terakhir. Kritik saya adalah: dia tidak memiliki cukup kemampuan sepak bola. Anda berbicara tentang 'lihat bagaimana dia berlari dengan bola.' Sebagai pemain gelandang tengah, itu bukanlah hal yang seharusnya dilakukan," jelas Graeme Souness.
Menurutnya, kebiasaan membawa bola secara berlebihan merupakan indikasi bahwa seorang pemain lambat dalam membaca situasi di lapangan.
"Alasan orang berlari dengan bola adalah karena mereka tidak melihat situasi dengan cukup cepat. Pendapat saya tentang menjadi gelandang tengah adalah: jika Anda seorang striker atau pemain sayap, mereka ingin saya melakukan sentuhan bola seminimal mungkin," ucap Graeme Souness.
Souness menutup komentarnya dengan menggambarkan kebiasaan Rice yang kerap menghentikan serangan dan mengalirkan bola ke arah samping.
"Saya membayangkan Rice berlari dengan bola sejauh 20 yard, dia dihadang oleh pemain lawan, rem tangan diaktifkan, dan dia mengoper bola ke samping," pungkas Graeme Souness.
Kritik senada dituliskan oleh Souness melalui media The Telegraph, yang menyebut bahwa Rice dan Elliot Anderson belum mencapai level gelandang papan atas dunia.
"Saya tahu seperti apa pemain kelas dunia itu. Apa yang saya lihat dari Inggris di turnamen ini belum mencapai standar tersebut," tulis Graeme Souness.
Ia juga menyoroti penurunan drastis kepercayaan diri skuad Inggris yang dilatih Thomas Tuchel setelah Anthony Gordon berhasil mencetak gol pembuka.
"Saya belum pernah melihat tim kehilangan kepercayaan diri ketika mereka unggul 1-0. Masalahnya sudah ada di lapangan bahkan sebelum Tuchel melakukan perubahan apa pun," komentar Graeme Souness.
Souness menyayangkan ketidakmampuan lini tengah Inggris dalam menjaga tempo, yang dibuktikan dengan kegagalan mengendalikan permainan di menit-menit krusial.
"Pernahkah Anda melihat Rice mengendalikan tempo permainan seperti Rodri? Jawabannya adalah tidak," tulis Graeme Souness.
Selain itu, Souness menilai nilai pasar transfer yang tinggi saat ini tidak menjamin kualitas profesional seorang pemain di atas lapangan hijau.
"Elliot Anderson masih muda dan memiliki sikap yang sangat baik, tetapi dia masih memiliki keterbatasan," komentar Graeme Souness.
Dalam wawancara terpisah dengan Sports Uncensored yang dilansir Goal.com, Souness kembali mempertegas pandangannya mengenai perbandingan kualitas Anderson dan Rice dengan Rodri.
"[Anderson] berusia 22 tahun, jadi dia masih punya peluang untuk berkembang. Declan tidak akan berkembang lagi; di usia 27 tahun, dia sudah mencapai performa terbaiknya," tutur Graeme Souness.
Ia menambahkan bahwa gaya bermain Rodri yang sangat efektif dan efisien merupakan contoh yang bertolak belakang dengan para gelandang Inggris.
"[Spanyol] unggul satu gol dan dia tetap bisa mengendalikan permainan melalui pilihan operannya, tidak membawa bola secara berlebihan, dan tidak selalu mengoper ke samping," kata Graeme Souness.
Di sisi lain, mantan bek Liverpool Mark Lawrenson turut memberikan pandangan serupa melalui laporan Akurat Banten mengenai posisi bermain terbaik bagi Rice.
"Kalau saya jujur, saya rasa posisi terbaik Declan Rice adalah bek tengah," ujar Mark Lawrenson.
Sementara itu, dari ranah pribadi, laporan Yahoo menyebutkan bahwa Rice mendapat dukungan langsung di Amerika Serikat dari kekasih masa kecilnya, Lauren Fryer, dan putra mereka yang bernama Jude.
Hubungan jarak jauh dari sorotan media ini sempat memicu tanggapan dari sang pemain saat membela pasangannya dari perundungan siber di internet.
"She is the love of my life and I don't need an upgrade," tegas Declan Rice.
Setelah menyelesaikan turnamen Piala Dunia 2026 melawan Prancis dalam perebutan tempat ketiga pada hari Sabtu, Rice dijadwalkan segera kembali ke London Utara untuk mempersiapkan musim baru Liga Premier bersama Arsenal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow