King Power Menjual Leicester City Seharga Rp5,3 Triliun
Pemilik Leicester City, keluarga Srivaddhanaprabha melalui King Power, resmi menawarkan seluruh aset klub sepak bola asal Inggris tersebut kepada calon investor pada Agustus 2026. Langkah ini diambil menyusul krisis finansial hebat dan penurunan performa tim hingga terdegradasi ke League One.
Proses penjualan klub ditangani oleh bank investasi Citigroup melalui berkas penawaran bertajuk Project Lineup. Brosur tersebut memasarkan seluruh portofolio aset klub dengan nilai awal mencapai 222 juta poundsterling atau sekitar Rp5,33 triliun.
Namun, nilai transaksi akuisisi diperkirakan berpotensi turun ke kisaran 148 juta poundsterling atau sekitar Rp3,55 triliun. Penyesuaian harga ini dipengaruhi oleh penurunan kasta kompetisi yang dialami Leicester City serta akumulasi utang klub.
Laporan keuangan sejak 2021 mencatat akumulasi kerugian klub mencapai lebih dari Rp6,5 triliun. Selain itu, Leicester City dilansir dari BBC Sport masih menanggung pinjaman bank sebesar 103,6 juta poundsterling atau setara Rp2,5 triliun.
Paket aset yang ditawarkan mencakup King Power Stadium senilai Rp1,78 triliun dan pusat latihan Seagrave senilai Rp2,90 triliun. Penjualan tersebut juga mencakup area Belvoir Drive, lahan sekitar stadion, akademi pemain, serta klub Belgia OH Leuven.
Dalam lima tahun terakhir, akademi Leicester City dilaporkan The Athletic berhasil menyumbang pemasukan transfer lebih dari Rp6 triliun. Namun, penurunan pendapatan hak siar setelah terdegradasi memicu pembengkakan beban operasional.
Keputusan menjual klub menandai perubahan sikap Chairman Aiyawatt Srivaddhanaprabha yang sebelumnya berniat mempertahankan warisan mendiang ayahnya, Vichai Srivaddhanaprabha. Hubungan manajemen dengan suporter kini kian tegang akibat penurunan prestasi tersebut.
"Lima tahun lalu, klub kami adalah tim Premier League mapan dengan skuad, akademi, reputasi, dan fasilitas yang kuat—belum lagi keberhasilan meraih trofi baru-baru ini," ujar kelompok suporter Leicester City, Foxes Trust.
Krisis manajemen dan kegagalan kebijakan transfer pemain membuat kelompok pendukung melancarkan kritik keras terhadap arah kebijakan klub.
"Sejak saat itu, kemerosotan klub kami yang mengkhawatirkan, baik di dalam maupun di luar lapangan, telah menjadi sebuah bencana," kata Foxes Trust.
Sebelum terpuruk ke League One, Leicester City pernah mencatatkan dongeng sepak bola saat menjuarai Premier League 2016 dan FA Cup 2021. Hingga kini, belum ada pengumuman resmi terkait investor yang akan mengambil alih kepemilikan klub.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow