Kecerdasan Buatan dan Mikrofon Bawah Air Ungkap Pengeboman Terumbu Karang

Smallest Font
Largest Font

Praktik destruktif pengeboman terumbu karang di kawasan Indo-Pasifik terdeteksi terjadi dengan frekuensi mengkhawatirkan. Pemantauan terbaru mencatat aksi perusakan ini berlangsung setiap 62 menit sekali. Guna memetakan ancaman tersebut, tim peneliti gabungan dari Inggris dan Indonesia menempatkan mikrofon bawah air di wilayah Kepulauan Spermonde, Indonesia.

Penjelajahan audio dilakukan untuk mendeteksi suara ledakan di area perairan seluas 900 kilometer persegi. Hasil rekaman tersebut dilansir dari Detik iNET kemudian dianalisis menggunakan algoritma machine learning. Langkah ini memungkinkan identifikasi lokasi dan waktu peristiwa pelemparan bahan peledak secara presisi di area terumbu karang seluas 100 kilometer persegi.

Data dari mikrofon merekam 3.570 kali ledakan bom selama 3.650 jam masa pemantauan. Proyeksi tahunan menunjukkan angka pelemparan bahan peledak tersebut dapat mencapai 8.500 kali ledakan.

Jika seluruh peledak menyasar area karang, tingkat kerusakan ekosistem diperkirakan mencapai 0,17 kilometer persegi per tahun. Akumulasi kerusakan selama tiga tahun setara dengan luas wilayah Vatikan. Metode penangkapan ikan dengan bahan peledak memang memberikan hasil instan bagi pelaku. Namun, gelombang kejutnya menghancurkan struktur bawah laut yang menjadi penopang kehidupan 25 persen spesies laut.

"Populasi ikan membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk pulih setelah terjadinya penangkapan ikan dengan bom. Dampak lanjutannya dapat membuat komunitas nelayan menjadi semakin rentan," kata Dr Ben Williams dari University College London dan Institute of Zoology.

Penanganan kerusakan ekosistem laut terbukti lebih efektif saat melibatkan masyarakat lokal secara langsung. Kawasan Kepulauan Spermonde kini menjadi lokasi program restorasi karang terbesar di dunia yang dipimpin oleh Mars.

Program pemulihan ini memanfaatkan jaringan struktur baja berbentuk bintang yang dinamakan reef stars. Unit tersebut dilapisi pasir terumbu untuk menstabilkan pecahan karang akibat ledakan.

"Pendekatan ini melibatkan pemasangan hamparan luas struktur baja berbentuk bintang yang disebut 'reef stars' dan dilapisi pasir terumbu untuk menstabilkan hamparan pecahan karang akibat praktik penangkapan ikan menggunakan bom," ujar William.

Setiap struktur baja ditempeli 15 fragmen karang sehat. Intervensi ini berhasil meningkatkan tutupan karang dari kurang dari 5 persen menjadi lebih dari 80 persen hanya dalam beberapa tahun.

Meskipun menunjukkan keberhasilan signifikan, pemulihan kawasan karang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hasil riset yang terbit dalam jurnal Remote Sensing in Ecology and Conservation ini menekankan pentingnya penghentian pengeboman sebagai akar masalah.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed