Jepang Diserang Gempa M 6,8 di Kumamoto dan Tewaskan 13 Orang
Bencana gempa bumi kembali melanda wilayah Jepang pekan ini setelah guncangan bermagnitudo 6,8 menerjang Prefektur Kumamoto. Seperti dilansir dari Detik iNET, peristiwa musibah tersebut menelan korban jiwa sedikitnya 13 orang.
Selain korban meninggal dunia, puluhan warga dilaporkan mengalami luka-luka dan sejumlah penduduk dinyatakan hilang. Tim penyelamat terus berupaya menyisir reruntuhan bangunan karena timbul kekhawatiran mengenai adanya korban yang masih terperangkap.
Aksi tanggap darurat langsung dikerahkan oleh tim gabungan yang terdiri atas unsur kepolisian, pemadam kebakaran, serta personil militer. Proses evakuasi dilakukan secepat mungkin untuk menyelamatkan warga terdampar.
"Warga masih menunggu pertolongan dan setiap detik sangat berharga," ujar Perdana Menteri Sanae Takaichi.
Kawasan Kumamoto sebenarnya baru saja menyelesaikan tahap pemulihan pascadilanda gempa hebat pada tahun 2016. Pada peristiwa sepuluh tahun silam tersebut, tercatat lebih dari 270 orang kehilangan nyawa.
Kondisi geografis kepulauan ini memang sangat rentan karena berada tepat di atas persimpangan empat lempeng tektonik aktif. Wilayah negara tersebut juga termasuk dalam jalur Cincin Api Pasifik sepanjang 40.000 kilometer yang kaya aktivitas vulkanik.
Pakar geologi sekaligus profesor dari Universitas Kobe, Shoichi Yoshioka, memberikan pandangannya terkait besarnya risiko bencana di wilayah tersebut.
"Sekitar 10% gempa di dunia dengan magnitudo 6 ke atas terjadi di atau sekitar Jepang, sehingga risikonya jauh lebih tinggi dibanding tempat seperti Eropa atau bagian timur Amerika Serikat, di mana gempa jarang terjadi," ungkap Shoichi Yoshioka.
"Setiap kali menyaksikan hilangnya nyawa secara tragis, gedung hancur, dan tsunami, meninggalkan kesan ketakutan mendalam. Ketakutan ini kemungkinan besar dirasakan banyak warga. Saya rasa inilah faktor signifikan yang mendorong mengapa Jepang begitu siap siaga," imbuhnya.
Bila menilik catatan sejarah, guncangan dahsyat sudah berulang kali merobohkan pemukiman di wilayah ini sejak era klasik. Pada tahun 1498, sebuah gempa besar diperkirakan merenggut lebih dari 30.000 nyawa. Tragedi mematikan lain mencakup Gempa Besar Kanto tahun 1923 yang menewaskan kurang lebih 140.000 jiwa.
Pemerintah setempat kemudian memperketat standar teknis konstruksi bangunan tahan gempa secara masif sejak dekade 1980-an. Regulasi ini terbukti efektif menekan kerusakan saat gempa Kobe melanda pada tahun 1995, meskipun peristiwa itu tetap menelan korban lebih dari 6.000 jiwa.
Infrastruktur modern dan simulasi evakuasi rutin yang diajarkan sejak usia dini memang meminimalkan dampak buruk bencana. Walau demikian, kedahsyatan alam seperti gempa magnitudo 9,1 dan tsunami Tohoku pada tahun 2011 yang memakan korban hampir 20.000 jiwa membuktikan bahwa risiko bahaya akan selalu mengintai.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
1
Sad -
0
Wow