Garuda Indonesia Urai Strategi Efisiensi dan Jawab Isu Merger
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) memaparkan peta jalan strategis untuk mengantisipasi gejolak harga bahan bakar avtur dan dinamika geopolitik global. Langkah ini disampaikan manajemen dalam forum Surabaya Investor Meeting and Connectivity 2026.
Guna meredam volatilitas harga avtur, maskapai BUMN tersebut mengoptimalkan jaringan penerbangan berbasis profitabilitas rute dan meningkatkan produktivitas armada. Di sisi lain, perseroan rutin berkoordinasi dengan regulator terkait kebijakan fuel surcharge serta Tarif Batas Atas (TBA).
Manajemen Garuda Indonesia menegaskan komitmen perusahaan dalam merespons tekanan biaya operasional tersebut.
"Perseroan senantiasa menjaga keterjangkauan tarif bagi masyarakat dengan tetap memperhatikan keberlanjutan kinerja usaha," tulis manajemen Garuda Indonesia dilansir dari Akurat.co.
Mengenai rapor merah pada laba bersih meski EBITDA tercatat positif, manajemen menjelaskan hal itu dipicu beban non-operasional. Faktor utamanya mencakup beban depresiasi, amortisasi non-kas, dan biaya keuangan pasca-restrukturisasi.
Perseroan juga menerapkan strategi dynamic pricing, Revenue Management adaptif, serta optimalisasi pendapatan sampingan untuk mendongkrak tingkat keterisian penumpang (SLF). Penjualan kursi penerbangan reposisi armada (empty leg) turut dimaksimalkan agar kapasitas tidak terbuang.
Menanggapi isu konsolidasi dengan Pelita Air, manajemen menyebutkan bahwa rencana tersebut masih berada dalam tahap pengkajian mendalam di tingkat pemegang saham.
"Sampai dengan saat ini belum terdapat keputusan final mengenai bentuk maupun mekanisme konsolidasi tersebut," tegas manajemen Garuda Indonesia.
Proses kajian restrukturisasi dan penggabungan usaha ini dipastikan dilakukan secara hati-hati demi memperkuat ekosistem penerbangan nasional tanpa mengganggu agenda transformasi perseroan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow