Core Indonesia Proyeksikan Ekonomi Triwulan II 2026 Tumbuh Melambat 4 8 Persen
Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 diperkirakan melambat ke kisaran 4,8% hingga 4,9% secara tahunan (yoy), melandai dibandingkan pencapaian triwulan I-2026 sebesar 5,61% yoy, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Selasa (4/8/2026).
Lembaga riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia mencatat bahwa perlambatan tersebut dipicu oleh normalisasi konsumsi rumah tangga seusai periode hari besar, tekanan defisit neraca perdagangan, serta lonjakan harga energi global. Sementara itu, untuk keseluruhan tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada pada rentang 4,9% hingga 5,1%.
Peneliti Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memberikan penjelasannya terkait proyeksi melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut.
"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berada di kisaran 4,8 hingga 4,9% secara tahunan, melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang tumbuh 5,61%," ujar Yusuf, Selasa (4/8/2026).
Sektor belanja pemerintah dan investasi masih menjadi penopang utama, tetapi kontribusinya belum memadai untuk menutup penurunan permintaan domestik serta tekanan eksternal. Selain itu, depresiasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat memperberat inflasi biaya produksi akibat lonjakan harga bahan baku impor.
"Kondisi ini berdampak pada daya beli masyarakat sekaligus menekan margin industri, terutama sektor yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor," terang Yusuf.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memperbesar risiko eksternal melalui kenaikan harga energi dan biaya logistik. Situasi ini meningkatkan impor migas, menekan neraca perdagangan, serta membuat investor global bertindak lebih hati-hati.
"Faktor ini membuat kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi lebih terbatas," tutur Yusuf.
Di sektor manufaktur, Purchasing Managers' Index (PMI) sempat berkontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026 yang mencerminkan penurunan aktivitas produksi industri padat karya. Meski PMI kembali meningkat ke angka 50,2 pada Juli 2026, dampak perbaikannya dinilai belum signifikan untuk mendongkrak kinerja ekonomi triwulan II secara keseluruhan.
Apabila laju pertumbuhan ekonomi berada di bawah level 5%, serapan tenaga kerja formal berpotensi melambat serta memicu peningkatan risiko pemutusan hubungan kerja di berbagai sektor industri.
"Pada akhirnya, kondisi ini akan kembali memengaruhi konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penggerak utama ekonomi," terang dia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow