Budaya Suporter Indonesia Berubah Menjadi Lebih Inklusif dan Terbuka

Smallest Font
Largest Font

Euforia final Piala Dunia 2026 masih hangat terasa di tengah masyarakat. Perubahan nyata kini terlihat jelas pada lanskap budaya suporter sepak bola tanah air, seperti dilansir dari Detikcom. Dahulu, tribun stadion sangat lekat dengan dominasi kaum laki-laki serta citra yang rentan konflik.

Namun, kondisi tersebut telah bergeser menjadi lebih inklusif. Dosen antropologi olahraga FISIP Universitas Airlangga (Unair), Rizky Sugianto Putri, menilai bahwa dinamika ini mencerminkan perkembangan budaya suporter yang mengikuti pergerakan zaman.

Perempuan, anak-anak, hingga lansia kini meramaikan tribun stadion. Sosok yang akrab disapa Kiki itu membagi identitas suporter ke dalam tiga lapisan utama.

Lapisan pertama merupakan local fandom seperti Jakmania, Bonek, dan Aremania. Faktor kedekatan geografis membuat ikatan emosional kelompok ini terasa amat kuat. "Pendukung klub lokal berinteraksi hampir setiap hari dengan lingkungan yang sama. Kedekatan itu membentuk ikatan emosional yang sangat kuat," katanya.

Lapisan kedua yakni national team fandom seperti Ultras Garuda dan La Grande Indonesia. Wadah ini menyatukan masyarakat dari beragam latar belakang sosial demi membela tim nasional. Sementara itu, lapisan ketiga diisi oleh modern fandom. Kelompok ini memadukan aksi dukungan di media sosial dengan kehadiran langsung di tribun stadion saat ada kesempatan.

"Budaya suporter sekarang jauh lebih terbuka. Orang datang bukan hanya untuk mendukung tim, tetapi juga belajar, berjejaring, dan menikmati pengalaman bersama," jelas Kiki. Stadion tidak lagi dipandang sekadar gelanggang pertandingan olahraga.

Dari kacamata antropologi olahraga, area ini bertransformasi menjadi ruang budaya tempat merayakan identitas bersama. Aktivitas suporter sangat beragam, mulai dari menyanyikan nyanyian semangat, mengibarkan bendera, hingga membentangkan koreografi raksasa. Hal tersebut memerlukan komitmen waktu, tenaga, dan biaya.

"Semua aktivitas itu membentuk communal behavior. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal akhirnya merasa berada dalam komunitas yang sama karena memiliki tujuan dan identitas yang sama," terangnya.

Tantangan Ruang Digital dan Hypernationalism

Kendati menunjukkan tren positif, perkembangan budaya suporter kini menghadapi tantangan baru di ranah digital. Interaksi media sosial rentan memicu aksi cyberbullying dan ujaran kebencian.

Fenomena tersebut mengarah pada hypernationalism, yakni saat semangat membela tim berubah menjadi serangan destruktif kepada kelompok lain. Kiki mengingatkan pentingnya menjaga nilai dasar sportivitas.

"Sepak bola memang membangun identitas kelompok. Namun, identitas itu seharusnya mendorong kedewasaan, bukan menjadi alasan untuk melakukan tindakan anarkis ataupun memecah persatuan," ungkapnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed