BRIN Ungkap Penyebab dan Solusi Kebakaran TPA Jatiwaringin Banten
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti sejumlah masalah di balik kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang, Banten, yang terjadi pada 30 Juni 2026 lalu dan membutuhkan proses pemadaman hingga lebih dari satu pekan, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, memaparkan tantangan mulai dari praktik open dumping, minimnya teknologi, hingga sistem pencegahan yang belum optimal. Menurutnya, langkah antisipasi harus dilakukan sejak awal menggunakan teknologi yang tepat.
"Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya," kata Wahyu Purwanta.
Secara ilmiah, akumulasi bahan bakar seperti plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, sampah kering, hingga gas metana membuat pembakaran di TPA sangat rentan terjadi saat bertemu oksigen dan sumber panas.
"Unsur yang paling sulit dipastikan biasanya adalah sumber penyalaan awal. Pemicu dapat berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda atau abu panas, maupun sumber panas di dalam timbunan," ujar Wahyu Purwanta.
Hingga saat ini, penyebab spesifik kebakaran TPA Jatiwaringin belum bisa disimpulkan karena memerlukan investigasi lebih mendalam. Risiko ke depan dapat dimitigasi dengan memasang sistem pemantauan temperatur, sensor gas, kamera termal, hingga drone termal untuk mendeteksi titik panas lebih dini.
"Ke depan, berbagai parameter tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini atau indeks risiko kebakaran TPA yang sesuai dengan karakteristik sampah dan iklim Indonesia," kata Wahyu Purwanta.
Pencegahan jangka panjang juga harus dilakukan dengan memilah sampah sejak awal agar mengurangi volume sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Langkah pengolahan sampah organik dan pemanfaatan fraksi bernilai harus terus diperkuat.
"Dalam jangka panjang, arah kebijakan perlu memastikan semakin sedikit sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan fraksi yang masih memiliki nilai harus diperkuat, sehingga fasilitas akhir pada akhirnya lebih banyak menerima residu dan dioperasikan secara lebih terkontrol," kata Wahyu Purwanta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow