BRI Danareksa dan KB Valbury Soroti Saham Adaro Andalan Indonesia
Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026, setelah dua perusahaan sekuritas memberikan analisis dan rekomendasi terkait pergerakan saham tersebut, dilansir dari Investor Daily.
KB Valbury Sekuritas merekomendasikan pembelian saham AADI dengan kisaran harga masuk Rp 8.825-9.000 dan target harga harian di Rp 9.125. Mereka menetapkan level resistance pada Rp 9.125 dan support pada Rp 8.825.
"Waspada jika harga menembus Rp 8.825. Stop loss di level Rp 8.525," tulis KB Valbury Sekuritas dalam ulasannya.
Selain KB Valbury, BRI Danareksa Sekuritas juga menaruh perhatian pada saham AADI dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Mereka menilai valuasi saham batu bara belum sepenuhnya mencerminkan fundamental karena pasar masih menghadapi ketidakpastian kebijakan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta, memperkirakan harga batu bara akan kembali normal pada semester kedua 2026, tanpa anjlok drastis.
"Risiko penurunan harga batu bara seharusnya tertahan oleh percepatan pemenuhan kewajiban pasar domestik dan preferensi pembeli untuk mempertahankan tingkat persediaan," ujar Erindra dan Kafi.
Mereka juga menyebutkan bahwa keseimbangan pasokan dan permintaan selama lima bulan pertama 2026 lebih ketat, namun belum mencapai tingkat guncangan moderat. Revisi naik dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) diperkirakan dapat membuka tambahan pasokan pada semester kedua 2026.
BRI Danareksa mempertahankan pandangan overweight untuk sektor batu bara, tetapi menurunkan pandangan taktis tiga bulan menjadi netral.
"Kami tetap menyukai emiten yang memiliki katalis spesifik perusahaan, dukungan dividen, dan ruang aman dari sisi valuasi," ungkap Erindra.
Mereka menetapkan saham AADI dan ITMG sebagai pilihan utama di sektor batu bara dengan rekomendasi beli. Target harga saham AADI ditetapkan sebesar Rp 12.400 dan ITMG sebesar Rp 34.000.
"Titik masuk yang lebih menarik berpotensi muncul setelah publikasi kinerja kuartal II-2026. Namun, itu bergantung pada persetujuan revisi RKAB, berkurangnya risiko implementasi DSI, dan berlanjutnya pemulihan volume produksi pada semester II-2026," pungkas Erindra dan Kafi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow