AS dan Saudi Serang Milisi Pendukung Iran di Irak dan Balas Serangan Rudal Iran
Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap milisi yang didukung Iran di Irak setelah Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania pada Selasa malam, 28 Juli 2026, sebagai bagian dari eskalasi konflik regional yang meluas.
Serangan gabungan AS-Saudi menewaskan sedikitnya 20 anggota Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) yang didominasi milisi Syiah pro-Iran dan melukai 32 lainnya di tujuh provinsi Irak, termasuk Baghdad, Wasit, Nineveh, Basra, Kirkuk, Karbala, dan Diyala, menurut pernyataan PMF yang dikutip BBC dan The Guardian.
Serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan drone yang diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap pasukan AS dan infrastruktur energi Saudi selama 72 jam terakhir, yang disebut oleh Komando Pusat AS (Centcom) sebagai serangan yang tidak beralasan dan gagal.
Presiden AS Donald Trump menegaskan akan memberikan balasan keras terhadap serangan Iran. "Mereka akan mendapatkan pukulan keras," ujar Trump kepada Fox News saat menanggapi serangan rudal Iran di Yordania.
IRGC mengklaim telah menargetkan pangkalan udara dan pusat komando AS di Yordania sebagai balasan atas "tindakan agresi tentara AS yang membunuh anak-anak". Selain itu, IRGC menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz yang dianggap melanggar jalur pelayaran mereka.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menuduh milisi yang didukung Iran meluncurkan serangan drone terhadap fasilitas minyak di wilayah Timur dan Riyadh. Saudi mengklaim melakukan serangan sebagai bentuk hak membela diri dan menegaskan tidak mencari eskalasi, namun akan merespons agresi dengan tegas.
PMF mengutuk serangan tersebut sebagai eskalasi serius dan pelanggaran kedaulatan Irak, menargetkan institusi keamanan resmi negara. Presiden Irak juga mengecam serangan itu sebagai pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan Irak, meskipun Trump mengatakan serangan telah dikoordinasikan dengan pemerintah Irak.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan AS-Saudi di Irak sebagai pelanggaran berat hukum internasional dan bagian dari strategi AS-Israel untuk memperluas perang di Timur Tengah. Iran memperingatkan konsekuensi berbahaya yang mungkin timbul dari tindakan ini.
Ketegangan ini muncul di tengah persaingan lama antara Saudi sebagai kekuatan Sunni dan Iran sebagai kekuatan Syiah terbesar di kawasan, yang telah diperparah oleh konflik proxy di Yaman, Suriah, Irak, dan Lebanon. Meski kedua negara memulihkan hubungan diplomatik pada 2023, serangan rudal dan drone Iran terus menyasar wilayah Saudi, yang juga menjadi lokasi fasilitas militer AS.
Serangan udara AS dan Saudi terjadi setelah masa hening tiga hari setelah serangkaian serangan udara malam oleh AS dan serangan rudal serta drone Iran yang menargetkan sekutu Washington di Teluk. Harga minyak Brent naik sekitar 5 persen mencapai $88,50 per barel akibat kekhawatiran eskalasi konflik yang dapat mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
Konflik ini bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington, yang melakukan pertemuan intens dengan Presiden Trump di Gedung Putih, di saat kedua pemimpin menghadapi tekanan politik domestik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow