AS Lancarkan Serangan Udara Gelombang Kesembilan ke Wilayah Iran
Eskalasi militer kembali memuncak di Timur Tengah setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara kesembilan secara berturut-turut ke wilayah Iran pada Senin, 20 Juli 2026 dini hari, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa gempuran tersebut ditujukan untuk memangkas kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam pelayaran kapal komersial di Selat Hormuz. Jalur maritim strategis tersebut menjadi kunci distribusi seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Dampak pertempuran kini meluas ke sejumlah negara tetangga. Pertahanan udara Kuwait sibuk mencegat gelombang serangan drone, sementara Bahrain membunyikan sirene bahaya udara. Di saat bersamaan, otoritas Yordania melaporkan pencegatan rudal di wilayah udaranya, dan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menggempur pusat komando musuh di Al-Tanf, Suriah.
Aksi saling serang ini dipicu oleh manuver Iran yang sebelumnya mengincar dua pangkalan militer AS di Kuwait. Langkah Teheran tersebut merupakan balasan atas kerusakan infrastruktur penting mereka akibat gempuran udara AS, termasuk proyek fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Darkhovin yang masih dibangun.
Upaya negosiasi damai menemui jalan buntu akibat sengketa penguasaan Selat Hormuz yang diblokir Iran sejak perang pecah pada akhir Februari 2026. Pada Minggu, 19 Juli 2026, IRGC menghentikan dua kapal komersial yang nekat melintasi jalur tersebut melalui rute yang dianggap tidak aman.
Pertempuran yang terus meningkat telah memakan banyak korban jiwa. CENTCOM mencatat total 17 prajurit militer AS tewas sejak operasi gabungan bersama Israel dimulai, termasuk tiga prajurit yang tewas dan satu hilang pada pekan lalu. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 orang luka-luka dalam bentrokan terbaru.
Pihak Badan Energi Atom Internasional (IAEA) kini sedang mendalami laporan terkait gempuran yang mengenai fasilitas nuklir Darkhovin. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mendesak seluruh pihak yang terlibat agar menahan diri serta mensterilkan kawasan sekitar situs nuklir dari segala aktivitas militer.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow