Ardina Rasti dan Arie Dwi Andhika Terapkan Pola Asuh Bebas Kekerasan
Pasangan selebritas Ardina Rasti dan Arie Dwi Andhika menerapkan metode pengasuhan yang membebaskan ekspresi karakter kedua anak mereka tanpa adanya paksaan, seperti dilansir dari Detik Hot pada Jumat (10/7/2026).
Prinsip mendidik yang menghormati kenyamanan anak ini dilakukan demi menjaga ruang privasi anak, termasuk tidak memaksa bersalaman atau memeluk orang lain. Ardina Rasti menjelaskan bahwa ia dan suaminya membiarkan anak tumbuh apa adanya tanpa melarang banyak hal yang sesuai dengan karakter masing-masing.
"Struggle nggak, cuma kita emang membiarkan mereka apa adanya. Kita sama sekali nggak melarang untuk ini itu. Kalau dia karakternya begini ya udah, kalau dia karakter begini ya udah, nggak kita paksa," kata Ardina Rasti.
Pola asuh ini juga diterapkan dalam berinteraksi sosial dengan orang lain demi menjaga hak kenyamanan tubuh sang anak. Sikap tersebut tetap dipertahankan meski terkadang dinilai kurang sopan oleh masyarakat umum.
"Sama kayak kita, misalnya kan ada yang billing, 'Ayo salim, salim, salim!' atau 'Ayo peluk, peluk, peluk!'. Nah, itu kita nggak mau. Kalau dia nggak nyaman, jangan, karena itu bagian tubuh dia, ranahnya dia.
Jadi kalau salim nggak mau ya udah nggak apa-apa. Kalau orang umum kan bilang, 'Aduh, nggak sopan banget sih anaknya.' Cuma kalau kita ya udah, biarin aja," ungkap Ardina Rasti.
Kendati membebaskan anak, Rasti tetap mengarahkan buah hatinya untuk memahami situasi ketika berada di tempat umum. Penyesuaian ini dilakukan secara perlahan agar anak-anak tetap menjadi diri sendiri.
"Selama paling kalau lagi di tempat ramai dia teriak-teriak, ya kita suruh pelan-pelan. 'Ini ya Kakak, yang itu nggak kedengaran', gitu. Cuma nggak kita paksain untuk tidak jadi diri sendiri," tutur Ardina Rasti.
Di sisi lain, kedua anak mereka yakni Anara dan Biru mengaku lebih dekat dengan sang ibu karena ayah mereka menerapkan aturan yang lebih ketat. Aturan tersebut berkaitan erat dengan pembatasan durasi penggunaan gawai sehari-hari.
"Nggak boleh nonton satu hari," ucap Anara.
Kedua anak tersebut harus mematuhi batasan waktu yang sudah terpasang di perangkat tablet mereka. Pembatasan sistemik ini dikontrol langsung oleh Arie Dwi Andhika selaku ayah.
"Ayah suka marah karena ayah beliin tablet ada time up-nya," kata Biru.
Sistem pengawasan gawai tersebut diatur sepenuhnya melalui ponsel sang suami. Ketika durasi harian yang ditentukan sudah habis, anak-anak tidak diberikan waktu tambahan lagi.
"Mereka screen time-nya ada waktunya dalam sehari. Kalau udah habis, udah enggak bisa nambah lagi. Semuanya dari handphone-nya suami," kata Ardina Rasti.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow