Saham Gudang Garam Melonjak 119 Persen dalam Setahun Terakhir
Kinerja saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan penguatan signifikan selama setahun terakhir. Dilansir dari Investor Daily, harga saham emiten produsen rokok ini melesat hingga 119,72 persen dalam rentang waktu tersebut.
Pada penutupan perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, saham GGRM menguat 2,63 persen ke level Rp 19.500 per lembar. Tren positif ini melengkapi lonjakan harga saham perseroan yang mencapai 25,81 persen sepanjang bulan terakhir.
Aktivitas perdagangan saham Gudang Garam kemarin mencatatkan volume 3,64 juta lembar dengan frekuensi 5.789 kali. Nilai transaksi keseluruhan menembus Rp 70,82 miliar, sementara pemodal asing membukukan beli bersih atau net buy sebesar Rp 38,22 miliar.
Aksi beli investor asing terhadap saham GGRM terus terakumulasi secara konsisten. Dalam kurun waktu satu bulan, total nilai net buy pemodal luar negeri pada saham ini telah menyentuh angka Rp 194,57 miliar.
Meskipun mengalami lonjakan pesat dalam kurun setahun, harga saham GGRM saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masanya. Saham perseroan pernah mencapai level puncak Rp 100.975 pada Maret 2019 silam.
Kenaikan harga saham perseroan belakangan ini ditopang oleh lonjakan performa keuangan. PT Gudang Garam Tbk berhasil mengantongi laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 2,97 triliun sepanjang semester I-2026.
Capaian laba bersih pada paruh pertama tahun ini melonjak 2.440 persen jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2025 yang tercatat senilai Rp 117,16 miliar. Per 30 Juni 2026, laba per saham GGRM meningkat drastis menjadi Rp 1.547 dari sebelumnya Rp 61.
Peningkatan laba tersebut dicapai meski terjadi penurunan pada pos pendapatan. Omzet Gudang Garam terkoreksi menjadi Rp 41,17 triliun pada semester I-2026 dari posisi Rp 44,36 triliun pada semester I-2025.
Penyebab utama melonjaknya laba bersih adalah keberhasilan perseroan menekan biaya pokok penjualan dari Rp 40,58 triliun menjadi Rp 35,19 triliun. Strategi efisiensi ini mendorong pertumbuhan laba bruto menjadi Rp 5,98 triliun dari sebelumnya Rp 3,78 triliun.
Posisi keuangan perseroan juga mencatatkan penguatan dengan total aset mencapai Rp 77,87 triliun per 30 Juni 2026. Pertumbuhan aset tersebut didukung kas dan setara kas sebesar Rp 8,71 triliun, sedangkan total liabilitas tercatat Rp 13,77 triliun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow