AchmadNurHidayat.ID — Pemerintah memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 membengkak menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka itu naik dibandingkan kesepakatan awal antara pemerintah dan DPR yang menetapkan defisit Rp689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.
Perubahan Proyeksi Pendapatan Dan Belanja
Dari perincian terbaru, pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp3.208,1 triliun, naik Rp54,5 triliun dari target semula Rp3.153,6 triliun. Sementara belanja negara dirancang sebesar Rp3.942,4 triliun, bertambah Rp99,7 triliun dari pagu awal Rp3.842,7 triliun.
Dengan selisih itu, defisit terkoreksi menjadi Rp734,3 triliun, bertambah sekitar Rp45,2 triliun dari angka yang disetujui sebelumnya.
Rincian Sumber Pendapatan
Pendapatan negara yang diperkirakan terealisasi Rp3.208,1 triliun setara 101,7% dari target APBN awal. Secara tahunan, pendapatan diproyeksikan tumbuh 16%.
Penerimaan perpajakan diperkirakan mencapai Rp2.631,4 triliun, terdiri atas penerimaan pajak sebesar Rp2.310,8 triliun dan penerimaan kepabeanan serta cukai Rp320,6 triliun. Penerimaan pajak diproyeksikan tumbuh 20,5% secara tahunan, sedangkan kepabeanan dan cukai meningkat 6,8%.
“Kami akan jaga terus. Mudah-mudahan kita bisa tahan pertumbuhan tahunan pajak di 23% sehingga income kita juga akan lebih baik,” tutur Purbaya.
Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) diperkirakan mencapai Rp575,1 triliun atau tumbuh 6,2% dibanding tahun sebelumnya. Penerimaan hibah diproyeksikan sebesar Rp1,5 triliun, turun 72,1% dari realisasi tahun sebelumnya.
Komponen Belanja Dan Alokasinya
Pemerintah memperkirakan realisasi belanja negara mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6% dari target APBN, dengan pertumbuhan tahunan 14,8%.
Belanja pemerintah pusat diperkirakan Rp3.245,5 triliun, tumbuh 25,5% secara tahunan. Transfer ke daerah (TKD) diproyeksikan Rp696,9 triliun atau 100,6% dari pagu APBN Rp693 triliun.
Pemerintah menyatakan belanja diarahkan untuk mendukung program prioritas pembangunan, menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat, mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah, penanggulangan bencana, serta penyaluran tambahan dana otonomi khusus.
“Outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan belanja Rp132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah yaitu subsidi dan kompensasi,” terang Purbaya.
Peran APBN Dalam Kondisi Global
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah akan menjaga defisit tetap dalam batas aman untuk mempertahankan kredibilitas fiskal dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menurut Purbaya, APBN 2026 berfungsi sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan gejolak geopolitik. APBN juga difungsikan sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat serta sebagai instrumen kebijakan countercyclical dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inklusif, adil, dan merata.
“APBN 2026 dijaga tetap sehat dan berkesinambungan dengan pembiayaan anggaran yang efisien, defisit terkendali dalam batas aman sebesar 2,85% PDB untuk menjaga kredibilitas fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR.
Purbaya juga menyebutkan APBN konsisten mendukung agenda prioritas pembangunan nasional, termasuk program Makan Bergizi Gratis, Revitalisasi Sekolah, Cek Kesehatan Gratis, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih agar berjalan efisien dan efektif.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
