— Harga minyak mentah dunia kembali turun pada perdagangan Senin (6/7/2026), merosot lebih dari 1% seiring meningkatnya pasokan global. Penurunan terjadi setelah OPEC+ menyepakati kenaikan target produksi mulai Agustus dan sebagian jalur ekspor di Selat Hormuz pulih.

Pantauan pasar pukul 07.56 GMT menunjukkan kontrak berjangka Brent turun US$1,02 atau 1,41% ke US$71,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$0,80 atau 1,16% menjadi US$67,89 per barel.

OPEC+ Tambah Kuota Produksi

Kelompok OPEC dan sekutunya (OPEC+) pada Minggu (5/7/2026) menyetujui penambahan target produksi sebesar 188.000 barel per hari (bpd) yang efektif diberlakukan pada Agustus 2026. Langkah ini merupakan lanjutan kebijakan serupa yang diterapkan pada Juni dan Juli 2026.

Meski kuota dinaikkan, peningkatan keluaran di lapangan masih menghadapi kendala terkait gangguan akibat konflik regional. Gejolak keamanan sebelumnya sempat menghambat lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, membatasi kapasitas ekspor produsen besar di kawasan Teluk.

Surplus Di Pasar Spot Dan Lonjakan Ekspor Rusia

Tekanan pasokan makin nyata di pasar spot. Perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, diberitakan menjual sekitar 16 juta barel minyak mentah dengan potongan harga yang lebih besar.

Di sisi lain, volume ekspor minyak Rusia dari pelabuhan barat mencapai rekor tertinggi pada Juni 2026. Kondisi ini terkait kerusakan kilang akibat serangan drone Ukraina, sehingga Rusia lebih banyak menyalurkan minyaknya dalam bentuk mentah (crude oil).

Permintaan Global Melambat

Analis ANZ memperkirakan permintaan minyak global bisa menyusut sekitar 1,5 juta barel per hari pada 2026 akibat kontraksi aktivitas ekonomi pada kuartal kedua. Proyeksi tersebut turut menekan ekspektasi harga di pasar.

“Mereka (produsen) menjual di tengah tren pasar yang sedang turun, sehingga kecil harapan bagi harga untuk berbalik menguat dalam waktu dekat. Meski begitu, harga minyak yang lebih murah pada akhirnya akan merangsang kembali pertumbuhan permintaan di masa mendatang,” tulis analis dari PVM.

Selat Hormuz tetap menjadi jalur kritis bagi distribusi energi global, menyalurkan hampir seperlima konsumsi minyak dunia harian. Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait keamanan jalur pelayaran dipantau ketat oleh pelaku pasar seiring pemulihan volume ekspor di kawasan Teluk.

Secara keseluruhan, kombinasi kenaikan kuota OPEC+, obral minyak mentah dari beberapa produsen, dan pelemahan permintaan manufaktur global menciptakan tekanan ke bawah pada harga minyak, memicu koreksi setelah periode kenaikan sebelumnya.