AchmadNurHidayat.ID — Berinvestasi sejak usia muda dinilai memberikan beragam keuntungan, mulai dari percepatan kebebasan finansial hingga perlindungan terhadap inflasi yang menggerus nilai uang. Para praktisi menekankan pentingnya memulai dengan instrumen legal seperti saham, kripto, dan komoditas agar generasi muda memiliki aset produktif ketimbang terjerat skema spekulatif.
Pemaparan ini mengemuka dalam diskusi “Literasi Keuangan Mahasiswa: Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas” yang digelar Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo (Himapen) di Jakarta, Rabu (8/7/2026). Hadir sebagai pembicara para praktisi pasar modal dan sektor fintech serta pengembang solusi keamanan siber.
Contoh Rekam Jejak Investasi
Beberapa contoh performa investasi disampaikan untuk menggambarkan potensi imbal hasil. Misalnya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang pada IPO tahun 2000 dipatok Rp1.400 per saham; perhitungan termasuk stock split pada 2001 dan 2021 menunjukkan capital gain mencapai 3.989% sejak IPO. Contoh lain, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatat capital gain 296% sejak IPO 2023.
Data itu dibandingkan dengan rata-rata inflasi 10 tahun sebesar 2,8% per tahun, serta puncak inflasi pada 2022 sebesar 4,21%, untuk menunjukkan bahwa return kedua saham tersebut jauh melampaui laju inflasi. Ilustrasi di aset kripto juga dipaparkan: harga Bitcoin pada 2010 sekitar Rp73 per koin, sementara kini menyentuh Rp1,1 miliar per koin.
Manfaat Investasi Dini
Vier Abdul Jamal, praktisi pasar modal, menyatakan waktu merupakan aset terbesar yang tak dapat dibeli kembali. “Semakin diri seorang mulai berinvestasi, makin besar efek pertumbuhan yang bisa didapat di masa depan,” ujar dia.
Ia merinci beberapa manfaat investasi sejak muda: (1) kebebasan finansial tercapai lebih cepat dibanding memulai di usia matang; (2) keuntungan dapat tumbuh seiring waktu; (3) melatih mindset jangka panjang yang lebih disiplin dan strategis; (4) melindungi nilai uang dari inflasi; (5) memberi kesempatan belajar dari kesalahan kecil; dan (6) membangun aset produktif sejak dini sehingga aset bekerja untuk pemilik.
Vier juga membandingkan budaya investasi di AS dan Eropa yang cenderung melihat investasi sebagai kebutuhan hidup—dengan fokus pertumbuhan jangka panjang, penerimaan terhadap volatilitas, dan praktik seperti compounding, reinvestasi dividen, dollar cost averaging, serta alokasi aset—dengan kondisi di Indonesia yang masih banyak berfokus pada tabungan, deposito, dan orientasi jangka pendek.
Prospek Kripto dan Peran Literasi
Andy Putra, Presiden Direktur Pintu, mendorong mahasiswa untuk segera memulai investasi legal dan menjauhi perjudian online. Ia menyebutkan kripto sebagai salah satu aset keuangan favorit generasi muda dan mengutip kenaikan nilai Bitcoin sejak 2010 sebagai ilustrasi potensi imbal hasil.
Andy juga menyampaikan bahwa kripto telah diregulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sejak 2025 serta menyinggung aspek teknis transaksi yang dinamis dan modal masuk relatif kecil. Ia menambahkan contoh aplikasi teknologi kripto, seperti tokenisasi proyek properti, yang membuka akses bagi investor ritel untuk memiliki bagian proyek.
Hari Mantoro, komisaris dan asesor profesi pasar modal, menekankan bahwa investasi diperlukan untuk mempertahankan daya beli yang tergerus inflasi. Ia memberi ilustrasi perbandingan harga mobil dari 1991 ke 2026 untuk menggambarkan dampak inflasi terhadap harga barang. “Oleh sebab itu, untuk mempertahankan daya beli, generasi diimbau untuk segera beralih dari budaya menabung ke budaya berinvestasi,” jelas Hari.
Dukungan Korporasi dan Keamanan Digital
Odang Supriatna dari PT Smartin Advisor System (SAS) menyatakan pihaknya mendorong distributor dan mahasiswa agar mengembangkan kemampuan profesional di bidang pemrograman, trading berbasis EA & AI, hingga peran sebagai influencer keuangan dan smart investor.
Di sisi lain, Patrick Dannacher, president director PT ITSEC Asia Tbk, menyatakan dukungan sektor korporasi dalam membangun ekosistem investasi digital yang aman. Perusahaan ini menyediakan layanan keamanan siber seperti Security Operations Center 24/7, Managed Detection and Response, penetration testing, hingga solusi berbasis AI untuk membantu organisasi menemukan dan mengatasi kerentanan sebelum dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.
Menurut Patrick, upaya itu penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital sehingga mendorong partisipasi publik dalam investasi digital.
Peran Perbankan dan Upaya Literasi
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mendukung agenda literasi keuangan dengan berpartisipasi dalam kegiatan edukasi seperti diskusi Himapen. Mucharo, Direktur Human Capital & Compliance BNI, menyatakan literasi keuangan adalah fondasi untuk kesejahteraan finansial.
Ia mengutip hasil survei OJK 2022 yang menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia masih berada di bawah 50%, meski ada peningkatan sejak 2019. Data itu, menurut Mucharo, menjadi dasar area fokus bagi upaya peningkatan literasi ke depan.
Diskusi ini menutup satu pesan utama: mulai berinvestasi sejak dini, dengan instrumen legal dan pemahaman risiko, dianggap lebih menguntungkan ketimbang terjebak pada spekulasi tanpa kepemilikan aset produktif.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
