— Harga minyak dunia ditutup turun pada perdagangan Selasa (30/6/2026) waktu setempat, dengan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencatat penurunan bulanan dan kuartalan terdalam sejak pandemi Covid-19 pada 2020.

Kontraksi harga itu dipengaruhi oleh meningkatnya harapan pasar atas pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran serta bertambahnya pasokan sementara setelah kapal-kapal yang sempat tertahan kembali beroperasi di kawasan Teluk.

Pergerakan Harga

Harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus turun 23 sen atau 0,3% menjadi US$ 72,92 per barel. Kontrak Brent Agustus berakhir pada Selasa dan digantikan kontrak September yang diperdagangkan di kisaran US$ 73,31 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah WTI melemah US$ 1,25 atau 1,8% menjadi US$ 69,50 per barel.

Pemicu Penurunan

Penurunan terjadi seiring harapan pasar atas potensi pembicaraan antara AS dan Iran di Doha, meski gencatan senjata sementara yang telah berjalan empat bulan masih rapuh.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai pasar masih mempertahankan premi risiko geopolitik, tetapi bertambahnya kapal yang kembali keluar dari Teluk menciptakan tambahan pasokan sementara sehingga menekan harga minyak.

Dalam proyeksi lain, Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak global akan mengalami surplus pasokan sekitar 4,8 juta barel per hari pada 2027, yang menurut lembaga tersebut dapat membatasi kenaikan harga dalam jangka menengah.

Situasi Diplomasi di Doha

Seorang pejabat Qatar menyatakan utusan khusus AS yang tiba di Doha tidak akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran. Kedua pihak diperkirakan hanya akan melakukan pembicaraan teknis mengenai isu keamanan kawasan yang dapat ditingkatkan ke level lebih tinggi.

Sebelumnya, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner tiba di Doha setelah insiden serangan pada akhir pekan yang menguji kesepakatan gencatan senjata sementara yang berlaku sejak 17 Juni.

Penurunan Terburuk Sejak Pandemi

Sepanjang Juni, harga Brent merosot sekitar 21% setelah turun sekitar 19% pada Mei. Penurunan bulanan tersebut merupakan yang terburuk sejak Maret 2020, ketika pandemi Covid-19 menghancurkan permintaan energi global.

Secara kuartalan, Brent anjlok sekitar 38% pada kuartal II-2026, berbalik dari lonjakan sekitar 94% pada kuartal I. Penurunan kuartalan itu tercatat sebagai yang terburuk sejak kuartal I-2020.

Produksi dan Persediaan AS

Di sisi lain, produksi minyak AS terus meningkat. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan produksi minyak mentah AS mencapai rekor bulanan 13,93 juta barel per hari pada April, didorong tingginya harga selama konflik Iran.

Pelaku pasar kini menantikan laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan EIA sebagai petunjuk terbaru mengenai keseimbangan pasokan dan permintaan.

Analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS berkurang sekitar 4,5 juta barel pada pekan lalu. Jika terealisasi, hal tersebut akan menjadi penurunan stok selama 10 pekan berturut-turut, menyamai rekor terakhir yang terjadi pada Januari 2018.