— Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Selasa (30/6/2026), mencatat penurunan kuartalan terdalam dalam 13 tahun. Pelemahan dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dan masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga.

Emas spot ditutup turun 0,22% menjadi US$4.007,82 per ons troi setelah sempat menyentuh level terendah sejak November tahun lalu. Selama Juni, harga emas merosot sekitar 11,71% dan mencatat penurunan kuartalan pertama sejak 2024 serta menjadi kinerja terburuk sejak kuartal II-2013. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup jatuh 0,43% menjadi US$4.021,65 per ons troi.

Faktor Tekanan Pasar

Tekanan terhadap harga emas muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi terkait konflik di Timur Tengah, yang menguatkan keyakinan pasar bahwa kebijakan moneter akan tetap ketat. Secara historis, emas berperan sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, tetapi kenaikan suku bunga mengurangi daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Analis Marex Edward Meir mengatakan pasar masih diliputi ketidakpastian terkait perkembangan nota kesepahaman (MOU) yang diharapkan mampu meredakan konflik geopolitik. “Pasar masih gelisah mengenai stabilitas MOU tersebut. Selama belum terlihat titik terang, tekanan terhadap harga emas kemungkinan masih berlanjut,” ujar Meir.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik juga belum menunjukkan perkembangan berarti. Seorang pejabat Qatar menyatakan utusan tinggi AS yang tiba di Doha tidak akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran, sehingga menimbulkan keraguan atas peluang tercapainya gencatan senjata permanen.

Menanti Data Penting AS

Pasar juga mencermati data ekonomi AS sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed, karena inflasi di AS dinilai masih jauh di atas target 2% bank sentral tersebut. Meir menilai kondisi itu membuat pelaku pasar memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi untuk waktu lebih lama, bahkan peluang kenaikan tambahan masih terbuka.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Fokus investor selanjutnya tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS, yaitu laporan ADP Employment dan Nonfarm Payrolls yang dijadwalkan rilis awal Juli, yang akan menjadi indikator penting bagi arah suku bunga.

Sentimen Bank Sentral dan Pergerakan Logam Lain

Survei Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan bank-bank sentral berencana meningkatkan kepemilikan emas beberapa tahun ke depan, sekaligus diperkirakan mengurangi eksposur terhadap dolar AS dalam satu dekade mendatang seiring meningkatnya risiko geopolitik.

Di pasar logam mulia lain, perak spot justru naik 0,48% menjadi US$58,57 per ons dan berada pada jalur penurunan kuartalan terdalam sejak kuartal I-2020. Platinum anjlok 1,88% menjadi US$1.553,6 per ons, sedangkan paladium turun 1,09% ke US$1.212,25 per ons; keduanya menutup bulan dan kuartal di zona negatif.