Ceuta Dilanda Krisis Migrasi dengan Ribuan Orang Masuk dari Maroko
Krisis migrasi di Ceuta mencapai puncaknya pada 30 Juli 2026 ketika ribuan orang dari Maroko memasuki wilayah Spanyol secara massal, baik dengan berjalan kaki maupun berenang melewati perbatasan laut. Situasi ini menyebabkan pusat-pusat penampungan di Ceuta, terutama Centro de Estancia Temporal de Inmigrantes (CETI), menjadi penuh sesak tanpa kapasitas untuk menampung lagi, sementara jumlah korban meninggal dunia saat mencoba menyeberang mencapai 18 orang pada hari itu. Presiden Ceuta Juan Jesús Vivas meminta pemerintah pusat menyatakan keadaan darurat nasional dan mengambil alih kendali penuh untuk mengatasi krisis yang mirip dengan lonjakan besar pada tahun 2021.
"Bersama dan bersatu kita akan melewati ini," ujar Juan Jesús Vivas menyemangati warga Ceuta di tengah situasi yang sangat menekan.
Ribuan migran, banyak di antaranya muda dan membawa anak-anak, tiba dengan kondisi lelah dan terluka, beberapa bahkan tanpa alas kaki, mencari tempat perlindungan di tengah kekacauan yang terjadi di pusat penampungan. "Kami tidak tahu apa arti gelang yang dipasang, kapan bisa makan, atau kapan bisa mendapatkan perawatan," kata seorang migran yang berada di CETI, menggambarkan kebingungan dan keputusasaan mereka.
Pihak berwenang menemukan tambahan enam jenazah di perairan dekat perbatasan, sehingga total korban tewas yang ditemukan dalam insiden ini menjadi 15, dengan dugaan penyebab kematian adalah tenggelam saat berusaha mencapai pantai Ceuta. Jumlah migran yang meninggal di perairan Ceuta sejak awal tahun mencapai 45 orang, dengan 26 di antaranya terjadi hanya pada bulan Juli 2026, menurut data yang diperoleh dari Guardia Civil.
Pemerintah Spanyol telah mengerahkan pasukan militer untuk membantu pengamanan dan penanganan situasi, sementara Perdana Menteri Pedro Sánchez dijadwalkan mengunjungi Ceuta untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Di tingkat internasional, krisis ini memicu reaksi keras, termasuk usulan Italia untuk menangguhkan ruang Schengen dengan Spanyol, serta kritik dari Amerika Serikat terhadap kebijakan migrasi Spanyol yang dianggap berisiko. Situasi makin rumit karena putusan Mahkamah Agung Spanyol yang melarang pengusiran langsung terhadap migran yang masuk dengan berenang melewati batas laut, sehingga membuat penanganan migrasi semakin sulit.
Selain itu, dugaan bahwa pemerintah Maroko tidak menahan bahkan mungkin mendorong masuknya migran ke Ceuta menambah ketegangan diplomatik antara kedua negara.
Di Melilla, perbatasan lain antara Spanyol dan Maroko, juga tercatat peningkatan signifikan dalam upaya masuk, terutama oleh anak-anak dan remaja, yang memperparah krisis migrasi di wilayah perbatasan Spanyol di Afrika Utara.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow