AchmadNurHidayat.ID — Teknologi bola pintar menjadi pusat kontroversi usai sebuah gol Kroasia dibatalkan pada masa injury time melawan Portugal dalam laga di Toronto. Portugal menang 2-1 dan melaju ke babak 16 besar, sementara Kroasia harus menahan kekecewaan setelah gol Josko Gvardiol dianulir.
FIFA menyatakan keputusan pembatalan itu berdasar data dari connected ball technology yang menunjukkan sentuhan sangat tipis pada bola. Menurut badan sepak bola dunia, sensor di dalam bola mendeteksi gesekan yang melibatkan kepala Igor Mantanovic sehingga secara otomatis menempatkan Mario Pasalic dalam posisi offside saat gol tercipta.
Penjelasan Resmi FIFA
FIFA menegaskan bahwa sensor bola memberikan data yang sangat sensitif. “Teknologi ini mampu mendeteksi kontak sekecil apa pun, memberikan data yang belum pernah ada sebelumnya kepada perangkat pertandingan untuk mengambil keputusan yang cepat dan akurat,” bunyi pernyataan resmi organisasi tersebut.
Bagaimana Sensor Bekerja
Bola resmi Piala Dunia, “Trionda” produksi Adidas, dilengkapi sensor Inertial Measurement Unit (IMU) berukuran kecil. Menurut keterangan FIFA, sensor itu beroperasi pada frekuensi 500Hz, sehingga mampu menangkap dan mengirimkan data 500 kali per detik.
Data akselerasi dan gerak bola direkam secara tiga dimensi, kemudian disinkronkan dengan kamera pelacak di stadion dan dikirim real-time ke ruang asisten video wasit (VAR). Selain membantu penentuan offside, sensor sentuhan juga dipakai untuk meninjau dugaan pelanggaran handball dan penalti.
Grafik Detak dan Bukti Sentuhan
Dalam insiden di Toronto, tayangan ulang dari berbagai sudut tidak memperlihatkan secara jelas apakah kepala Mantanovic menyentuh bola. Tim VAR menampilkan apa yang disebut FIFA sebagai grafik detak jantung (heartbeat graphic) yang memperlihatkan lonjakan tajam (spike), yang menurut FIFA menunjukkan adanya kontak.
“Tidak peduli seberapa cepat bola bergerak atau berputar, pelacakan tetap berjalan sangat efektif. Akurasi posisi bola mencapai 99,99%. Anda bisa tahu persis di mana posisi pemain, bahkan hingga ujung sepatu yang sering kali menjadi penentu posisi offside,”
kata Profesor Manos Tentzeris dari sekolah teknik elektro dan komputer Georgia Tech kepada Associated Press.
Sejarah Penggunaan Teknologi
FIFA mencatat bahwa teknologi bola pintar pertama kali diuji pada 2020–2022 di ajang Piala Arab dan Piala Dunia Antarklub, sebelum dipakai pada Piala Dunia 2022 dan Piala Eropa 2024.
Intervensi serupa sebelumnya memicu perdebatan. Pada Euro 2024, teknologi mendeteksi handball tipis Joachim Andersen saat melawan Jerman, yang berujung penalti dan kemenangan 2-0 bagi tuan rumah. Pelatih Denmark saat itu, Kasper Hjulmand, mengkritik penggunaan teknologi tersebut: “Menurut saya, bukan seperti ini sepak bola seharusnya dimainkan.”
Respons Kroasia dan Debat Publik
Pelatih Kroasia Zlatko Dalić menyatakan kekecewaannya setelah timnya tersingkir. “Semua keputusan (teknologi) ini benar-benar merenggut kegembiraan dari sepak bola,” ujarnya.
Penerapan connected ball technology merupakan bagian dari peta jalan digitalisasi FIFA untuk menciptakan ekosistem sepak bola yang mengurangi kesalahan manusia. Meski menurut pihak penyelenggara teknologi menawarkan akurasi mendekati 100 persen, penggunaan sensor mikro 500Hz terus memicu perdebatan di kalangan pelatih, pemain, dan pencinta sepak bola mengenai dampaknya terhadap drama dan estetika permainan.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
