Aryna Sabalenka Dukung Kebijakan Tes Genetik Wajib WTA
Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka menyatakan dukungannya terhadap kebijakan baru Women's Tennis Association yang mewajibkan pemeriksaan genetik bagi seluruh pemain untuk memastikan keadilan kompetisi di kategori putri pada konferensi pers di Kanada, Minggu. Kebijakan yang mulai berlaku pada Juli 2026 tersebut mewajibkan para pemain menjalani pemeriksaan satu kali untuk mendeteksi gen SRY pada kromosom Y melalui usapan pipi atau sampel darah. Sabalenka menilai langkah pemeriksaan biologis ini sangat penting untuk mempertahankan integritas dan prinsip keadilan dalam ajang tur tenis profesional wanita.
"Saya pikir sangat penting untuk menjaga keadilan dalam tur kami," kata Sabalenka.
Ia menambahkan bahwa perbedaan biologis antara pria dan wanita menjadi alasan utama perlunya aturan ketat mengenai pembatasan atlet. "Secara biologis, pria jauh lebih kuat daripada wanita, jadi saya merasa tidak adil bagi seorang wanita untuk bersaing melawan pria biologis," ujar Sabalenka.
Respons tersebut disampaikan Sabalenka menyusul langkah WTA yang menetapkan tindakan disipliner bagi pemain yang menolak menjalani tes biologis tersebut. "Saya percaya mereka membutuhkan sedikit waktu untuk membuat keputusan ini dan saya mendukungnya," tutur Sabalenka.
Petenis asal Belarusia ini menegaskan kesiapannya untuk mengikuti prosedur medis yang ditetapkan oleh otoritas tenis wanita dunia. "Jika mereka ingin menguji kita semua, saya senang melakukannya; ini cukup adil, dan mari kita pertahankan seperti itu," ucap Sabalenka. Berdasarkan regulasi WTA, pemain yang terdeteksi memiliki gen SRY tidak diizinkan bertanding, kecuali dapat membuktikan kondisi medis khusus seperti Complete Androgen Insensitivity Syndrome yang membuat mereka tidak mengalami pubertas pria.
Isu mengenai kepesertaan atlet biologis pria di kategori wanita juga memicu perdebatan di cabang olahraga lain, seperti yang disuarakan oleh pemain WNBA Sophie Cunningham.
"Saya mendapat banyak umpan balik negatif tentang saya membenci trans. Dan saya seperti, 'Saya tidak pernah sekalipun mengatakan itu,'" kata Cunningham saat diwawancarai ESPN. Sikap Cunningham tersebut berfokus pada perlindungan ruang ganti dan hak berkompetisi bagi para atlet muda perempuan dari dominasi atlet biologis pria. "Melindungi gadis-gadis muda di ruang ganti, atau gadis-gadis muda dalam olahraga yang tidak seharusnya bertanding melawan pria biologis," ujar Cunningham.
Di sisi lain, penolakan terhadap tes genetik datang dari mantan atlet lari gawang asal Spanyol, Maria Jose Martinez-Patino, yang menilai langkah tersebut sebagai sebuah kemunduran.
"Ini membawa saya kembali ke tahun 1950-an dan 1960-an, ketika para wanita praktis harus melalui serangkaian kontrol, harus bertelanjang di depan panel dokter," kata Martinez-Patino kepada DW. Ia berpendapat bahwa penentuan jenis kelamin dalam olahraga profesional tidak bisa dilakukan secara kaku hanya berdasarkan pemeriksaan gen tunggal.
"Ini bukan hitam atau putih. Ada lebih dari 60 mutasi genetik yang menurut saya tidak terlalu rumit untuk dipelajari. Sesuatu yang selalu saya katakan adalah bahwa itu harus dilakukan kasus per kasus," tutur Martinez-Patino. Aturan anyar WTA ini menggantikan kebijakan lama yang sebelumnya mengizinkan wanita transgender bertanding selama kadar testosteron mereka berada di bawah 2,5 nmol/L secara berkelanjutan selama dua tahun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow