— Puskesmas di berbagai daerah semakin intensif menjalankan upaya pencegahan anemia dan stunting melalui Program Puskesmas Siap SEDIA (Skrining, Edukasi, Intervensi Aksi Cegah Anemia dan Stunting). Program ini menyasar ibu-ibu muda yang akan hamil serta anak-anak balita sebagai kelompok prioritas.

Inisiatif tersebut diinisiasi oleh Akselerasi Puskesmas Indonesia (APKESMI) dan mendapat dukungan pelaksanaan dari Danone Indonesia menjelang peringatan Hari Keluarga Nasional pada 29 Juni.

Tantangan Stunting dan Anemia

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting berada di angka 19,8%, yakni hampir 1 dari 5 anak balita masih mengalami gangguan pertumbuhan. Masalah ini berkaitan erat dengan persoalan gizi lain, termasuk Anemia Defisiensi Besi (ADB) yang masih ditemukan pada kelompok ibu dan anak.

ADB dapat mengganggu perkembangan otak dan fungsi kognitif anak, seperti konsentrasi, perhatian, dan daya ingat, yang berimplikasi pada kemampuan belajar dan tumbuh kembang jangka panjang.

Tiga Tahapan Program SEDIA

Program Puskesmas Siap SEDIA menerapkan pendekatan terintegrasi dalam tiga tahapan utama.

  • Skrining: Melibatkan standar antropometri dan penggunaan kalkulator zat besi untuk membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi risiko anemia serta gangguan pertumbuhan pada anak.
  • Edukasi: Dilakukan dengan Flipchart SEDIA yang memuat panduan mengenai gizi seimbang, pentingnya pemenuhan zat besi, dan pola makan sehat bagi ibu dan anak.
  • Intervensi: Dilaksanakan berdasarkan hasil skrining dan rekomendasi tenaga kesehatan sehingga penanganan disesuaikan dengan kebutuhan tiap anak.

Kusnadi, Ketua Umum DPP APKESMI, menegaskan peran strategis puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat dan pentingnya penguatan layanan primer untuk meningkatkan deteksi dini serta penanganan masalah gizi di tingkat komunitas.

“Sebagai organisasi yang mewadahi Puskesmas di Indonesia, APKESMI terus mendorong lahirnya inovasi yang memperkuat pelayanan kesehatan primer. Melalui Program Puskesmas Siap SEDIA, kami ingin memperkuat peran Puskesmas dalam melakukan skrining, edukasi, dan intervensi secara lebih terstruktur. Pencegahan anemia dan stunting harus dilakukan sejak dini agar dampaknya terhadap tumbuh kembang anak dapat diminimalkan,” kata Kusnadi.

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, menyatakan bahwa upaya pencegahan stunting dan ADB perlu berbasis bukti ilmiah agar intervensi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Riset menjadi fondasi utama dalam pengembangan berbagai program kesehatan dan nutrisi yang dijalankan Danone Indonesia. Karena itu, perusahaan terus memperkuat kolaborasi dengan tenaga kesehatan, akademisi, organisasi profesi, hingga pemerintah untuk menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Kami percaya bahwa kesehatan dan nutrisi pada masa awal kehidupan merupakan fondasi penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” ujar dr. Ray.

Dr. Ray menambahkan bahwa Danone Indonesia mendukung program ini khususnya pada aspek skrining, termasuk pengembangan Kalkulator Zat Besi sebagai alat bantu digital untuk mendukung deteksi dini risiko kekurangan zat besi.

Pelaksanaan Puskesmas Siap SEDIA diharapkan memperkuat kapasitas puskesmas dalam melakukan deteksi dini dan intervensi gizi, sehingga pencegahan anemia dan stunting dapat dilakukan lebih terstruktur di layanan kesehatan primer.