AchmadNurHidayat.ID — PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) disebut berada di jalur pertumbuhan yang jelas setelah mencatatkan lonjakan kinerja keuangan pada kuartal I-2026. Analis menilai kombinasi eksekusi pre-sales yang kuat dan optimalisasi cadangan lahan memberi ruang kenaikan nilai saham.
Data kuartal I-2026 menunjukkan pendapatan PANI naik 82% year-on-year menjadi Rp 1,1 triliun, sementara laba kotor meningkat 132% menjadi Rp 798 miliar. Efisiensi operasional mendorong laba usaha tumbuh 312% menjadi Rp 649 miliar, dan EBITDA tercatat Rp 653 miliar atau naik 309%.
Lonjakan kinerja tersebut berimbas pada laba bersih yang melonjak 1.066% menjadi Rp 578 miliar, sehingga margin laba bersih tercatat sebesar 52,06%.
“Kami melihat visibilitas pertumbuhan PIK 2 (PANI) cukup jelas, ditopang oleh eksekusi pre-sales yang kuat serta optimalisasi cadangan lahan seluas 1.825 hektare (ha),” tulis analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, dalam risetnya.
Adrian mencatat manajemen PANI berada pada jalur untuk mencapai target pre-sales Rp 4,3 triliun pada 2026, setelah merealisasikan 23% dari target tersebut atau setara Rp 987 miliar pada 1Q26.
Permintaan yang tangguh di segmen residensial memberikan kontribusi 47% terhadap penjualan, diikuti kavling komersial 43% dan produk komersial 10%.
Potensi Cuan
Kiwoom Sekuritas memulai cakupan riset untuk saham PANI dengan rekomendasi beli, menggunakan pendekatan valuasi berbasis revalued net asset value (RNAV). Dengan menerapkan diskon 55% terhadap estimasi RNAV, rumah riset tersebut menetapkan target harga 12 bulan ke depan sebesar Rp 8.500 per saham.
Berdasarkan target tersebut dan harga saat laporan, potensi kenaikan harga saham PANI diperkirakan mencapai sekitar 40%.
Valuasi mencerminkan pipeline pertumbuhan yang besar; rasio price to book value (P/BV) tercatat 4,51 kali dan price to earnings ratio (P/E) proyeksi 2026 sebesar 69,5 kali.
Faktor Pendukung dan Risiko
Sisi pendukung pertumbuhan meliputi munculnya pendapatan berulang (recurring income) dari magnet pariwisata, keberadaan Nusantara International Convention Exhibition (NICE), serta rencana pembukaan Hotel Hilton pada 2027. Aksi pendanaan korporasi yang terlaksana dan peningkatan aksesibilitas seperti jalan tol Kataraja serta rencana jaringan LRT/MRT juga disebut memperkuat posisi PIK 2 sebagai destinasi unggulan.
Namun, Kiwoom menyoroti sejumlah risiko utama: realisasi pre-sales yang lebih lambat dari perkiraan, potensi keterlambatan penyelesaian infrastruktur utama, serta tekanan ekonomi makro atau risiko suku bunga yang dapat memengaruhi daya beli properti.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
