— Batam dianggap memiliki peluang besar menjadi simpul logistik utama di Asia Tenggara berkat posisi geografisnya yang strategis. Pakar logistik menilai, jika infrastruktur dan ekosistem terintegrasi, pulau ini bisa menjadi gerbang Indonesia menuju pasar ASEAN dan global.

Namun, pakar tersebut mengingatkan bahwa keunggulan lokasi tidak cukup tanpa modernisasi pelabuhan, pengembangan bandara, dan penerapan teknologi digital dalam rantai pasok. Upaya kolaboratif antara pemerintah, otoritas setempat, pelaku usaha, dan asosiasi menjadi kunci realisasinya.

Letak Strategis dan Potensi Ekonomi

Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA) sekaligus Ketua Dewan Penasihat ASEAN Federation of Freight Forwarders Association (AFFA), Yukki Nugrahawan Hanafi, menyatakan Batam memiliki posisi geografis yang sulit ditandingi di Indonesia. Letaknya berada di persimpangan jalur pelayaran antara Samudra Hindia dan Pasifik serta berdekatan dengan Singapura dan Malaysia.

Yukki menekankan kedekatan geografis tersebut sebaiknya dilihat sebagai peluang untuk membangun kolaborasi regional yang memperkuat daya saing ASEAN. “Kedekatan geografis Batam dengan Singapura dan Malaysia semestinya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk membangun kolaborasi regional yang saling memperkuat daya saing ASEAN,” ujarnya.

Data Lalu Lintas dan Proyeksi Pasar

Signifikansi posisi Batam tercermin dari volume lalu lintas maritim di Selat Malaka dan peran sektor logistik di kawasan. Menurut data UNCTAD, lebih dari 100 ribu kapal melintasi Selat Malaka sepanjang 2025, mengangkut sekitar 22–25 persen perdagangan maritim dunia setiap tahun.

Riset Mordor Intelligence yang dikutip juga menyebut pasar freight and logistics ASEAN diproyeksikan tumbuh dari US$ 288,2 miliar pada 2025 menjadi US$ 390 miliar pada 2030 dengan CAGR 6,23 persen, didorong oleh ekspansi manufaktur, perdagangan elektronik, dan investasi lintas negara.

Modernisasi Pelabuhan dan Integrasi Digital

Yukki menegaskan bahwa daya saing tidak hanya ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh kemampuan membangun integrated logistics ecosystem yang menghubungkan pelabuhan, bandar udara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas, pergudangan modern, layanan kepabeanan, transportasi multimoda, dan platform digital dalam satu sistem terpadu.

“Modernisasi pelabuhan harus menjadi prioritas nasional. Transformasi pelabuhan bukan lagi sekadar soal kapasitas dermaga, tetapi mencakup digitalisasi proses bisnis, peningkatan produktivitas terminal peti kemas, hingga penerapan standar internasional yang meningkatkan kepercayaan pelaku usaha global,” kata Yukki.

Potensi Pelabuhan dan Bandara

Yukki menilai Pelabuhan Batu Ampar berpotensi besar untuk bertransformasi menjadi regional container gateway yang melayani perdagangan Indonesia bagian barat serta mendukung aktivitas transshipment dan distribusi regional.

Selain itu, Bandara Internasional Hang Nadim disebut sebagai aset strategis yang belum dimanfaatkan optimal. Dengan landasan pacu yang panjang dan ketersediaan lahan luas, Hang Nadim berpeluang berkembang menjadi ASEAN Air Cargo Hub.

“Pengembangan kawasan Aerocity, pusat Maintenance, Repair and Overhaul, fasilitas cold chain, hingga layanan express cargo akan memperkuat posisi Batam sebagai simpul logistik udara yang terintegrasi dengan jaringan pelabuhan dan kawasan industri. Konsep sea-air logistics yang memadukan Pelabuhan Batam dan Bandara Hang Nadim ini memiliki keunggulan kompeitif sektor logistik, terutama dalam memangkas biaya dan waktu,” ujar Yukki.

Ketahanan Rantai Pasok dan Teknologi

Menurut Yukki, pengalaman pandemi COVID-19 dan berbagai konflik geopolitik memperlihatkan bahwa ketahanan rantai pasok adalah isu strategis nasional. Oleh karena itu, transformasi logistik perlu didukung oleh pemanfaatan teknologi seperti artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), blockchain, digital customs, predictive logistics, dan port community system.

Dia menambahkan bahwa penerapan teknologi tersebut harus disertai regulasi yang konsisten dan tata kelola yang baik untuk memperkuat daya saing serta efisiensi operasional.

Kolaborasi Regional dan Langkah Ke Depan

Yukki menyebut berbagai kerja sama internasional seperti AFFA dan FIATA terus mendorong harmonisasi regulasi dan konektivitas logistik di ASEAN. Dia menilai Batam dapat menjadi laboratorium untuk mewujudkan integrasi pelabuhan, bandar udara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas, dan jaringan logistik nasional.

Yukki menutup dengan menegaskan bahwa visi ini dapat tercapai jika pembangunan berjalan terintegrasi dan didukung kepastian regulasi, percepatan investasi, penyederhanaan perizinan, serta kolaborasi antara pemerintah, BP Batam, operator bandara, dunia usaha, perguruan tinggi, dan asosiasi profesi.

“Dari Batam, Indonesia dapat memimpin konektivitas ASEAN, memperkuat ketahanan rantai pasok, dan menegaskan posisinya sebagai poros maritim serta pusat logistik yang disegani di tingkat global. Artinya, keberhasilan Batam tidak hanya akan meningkatkan daya saing Kepulauan Riau, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan perdagangan internasional, memperluas peluang investasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Yukki.