— Harga emas diperkirakan akan bergerak fluktuatif sepanjang pekan mendatang, terdorong oleh rangkaian sentimen geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat. Pergerakan ini diperkirakan mempengaruhi level support dan resistance baik dalam denominasi dolar per troy ounce maupun rupiah per gram.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memaparkan proyeksi tingkat harga serta faktor-faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan.

Proyeksi Level Harga

Ibrahim memperkirakan harga emas bisa mengalami koreksi dengan support pertama di US$ 4.100 per troy ounce dan setara Rp 2.650.000 per gram. Jika tekanan jual berlanjut, support kedua diperkirakan berada di US$ 4.000 per troy ounce atau sekitar Rp 2.550.000 per gram.

Di sisi kenaikan, Ibrahim melihat peluang penguatan menuju resistance pertama di US$ 4.248 per troy ounce atau Rp 2.690.000 per gram. Jika momentum beli lebih kuat, resistance kedua dipatok di US$ 4.348 per troy ounce dan setara Rp 2.780.000 per gram.

Sentimen Geopolitik

Ibrahim menyebut beberapa isu geopolitik utama yang saat ini memengaruhi harga emas, termasuk dinamika di Timur Tengah. Menurutnya, kondisi Selat Hormuz menjadi perhatian setelah tercapainya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran, yang berdampak pada arus pengiriman minyak mentah.

Pasar juga menantikan pertemuan pejabat AS dan Iran mengenai kondisi Selat Hormuz, termasuk rencana pencairan dana Iran yang selama ini dibekukan. Ibrahim menyampaikan pasar memperkirakan adanya jeda gencatan selama 60 hari yang dapat berlanjut.

Dari kawasan Eropa Timur, Ibrahim mencatat serangan Rusia ke Ukraina dengan serangan drone dan misil yang masif turut menambah ketidakpastian. Ia menyatakan pesimistis akan tercapainya gencatan senjata permanen antara Ukraina dan Rusia karena banyak wilayah yang telah dikuasai Rusia dan berfungsi sebagai penghasil komoditas.

Kebijakan Bank Sentral AS dan Harga Minyak

Ibrahim juga menyoroti peran data ekonomi AS dan pergerakan harga minyak mentah terhadap kebijakan Bank Sentral AS. Menurutnya, data ketenagakerjaan dan tingkat pengangguran yang tidak sesuai ekspektasi, serta penurunan harga minyak, dapat memengaruhi arah kebijakan moneter.

“Kalau melihat kondisi harga minyak mentah terus mengalami penurunan ada kemungkinan Bank Sentral Amerika akan menurunkan suku bunga, ini yang membuat harga emas kembali terbang dan ini momentum paling cepat harga emas dunia terus mengalami penguatan,” ujar Ibrahim.