AchmadNurHidayat.ID — Pasar Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan tetap kondusif menjelang lelang besar yang dijadwalkan pada 7 Juli 2026. Perbaikan sentimen domestik dan daya tarik imbal hasil obligasi pemerintah menjadi penopang utama prospek pasar.
Meski pemerintah menawarkan target indikatif yang relatif besar sebagai bagian dari strategi pembiayaan APBN, permintaan diperkirakan masih kuat dari investor domestik maupun asing selama faktor-faktor kunci stabil.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan daya tarik lelang kali ini tidak semata ditopang oleh level yield yang kompetitif. Stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan fiskal menjadi penentu penting.
“Yield yang tinggi memang menjadi daya tarik. Namun bagi investor asing, hal itu belum cukup apabila pelemahan rupiah masih berlanjut karena keuntungan investasi dapat tergerus oleh risiko nilai tukar,” ujar Yusuf.
Yusuf menambahkan investor masih memperhatikan kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal di tengah kebutuhan pembiayaan APBN 2026 yang lebih besar. Pengelolaan defisit dan strategi pembiayaan perlu terlihat kredibel dan berkelanjutan agar minat investor tetap terjaga.
Dari sisi eksternal, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dan ketidakpastian geopolitik global juga memengaruhi sentimen pasar obligasi, sehingga investor cenderung lebih selektif menempatkan dana ke aset negara berkembang.
Favorit Investor
Untuk lelang 7 Juli, Yusuf memperkirakan permintaan akan terkonsentrasi pada seri bertenor pendek hingga menengah. Kondisi suku bunga yang masih tinggi serta kurva imbal hasil yang terbalik mendorong investor mengurangi eksposur pada durasi panjang.
“Tenor pendek menjadi pilihan untuk mengurangi risiko durasi, sedangkan tenor menengah tetap menarik karena memberikan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko investasi,” kata Yusuf.
Sebaliknya, obligasi bertenor sangat panjang diperkirakan belum menjadi pilihan utama karena investor menuntut premi risiko lebih tinggi di tengah ketidakpastian arah suku bunga global.
Strategi Pemerintah
Yusuf menilai target indikatif lelang yang relatif jumbo merupakan bagian dari strategi front loading pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN. Melalui pendekatan ini, pemerintah berupaya mengamankan pendanaan lebih awal ketika kondisi pasar membaik.
Meski demikian, ia menekankan bahwa target tersebut bersifat fleksibel. Pemerintah memiliki ruang untuk menyesuaikan jumlah penyerapan sesuai kondisi pasar.
“Jadi, meskipun target indikatif besar, realisasi penerbitannya akan mempertimbangkan tingkat permintaan dan biaya dana yang dianggap optimal,” ujar Yusuf.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
