AchmadNurHidayat.ID — Bitcoin kembali melemah dan menembus level psikologis US$60.000 pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026, menandai kinerja bulanan terburuk sejak Juni 2022. Penurunan harga itu melengkapi paruh pertama tahun yang suram bagi aset kripto terbesar di dunia.
Sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD), Bitcoin tercatat turun sekitar 33%—kontras dengan indeks saham S&P 500 yang melonjak lebih dari 9% hingga pertengahan tahun ini. Data Coinglass menunjukkan Bitcoin diproyeksikan terkoreksi lebih dari 20% pada penutupan Juni 2026.
Penurunan Tanpa Kepailitan Massal
Meskipun harga Bitcoin telah anjlok sekitar 52% dari puncaknya, sejumlah analis menyebut pola penurunan kali ini berbeda dari siklus bear market sebelumnya. Kali ini penurunan besar terjadi tanpa gelombang kebangkrutan perusahaan kripto besar yang kerap mengiringi kejatuhan sebelumnya.
Ed Engel, analis dari Compass Point, menulis bahwa secara historis siklus kripto sering berakhir dengan kehancuran spektakuler, dan perusahaan seperti MicroStrategy sempat menjadi sorotan pelaku pasar bearish. Namun, menurut Engel, siklus saat ini tidak menunjukkan adanya kepailitan besar yang disebabkan leverage berlebih atau penipuan.
MicroStrategy sendiri mengumumkan berhasil menggalang dana lebih dari US$1 miliar. Perusahaan menyatakan dana itu dialokasikan untuk memperkuat cadangan kas—bukan untuk pembelian Bitcoin baru—yang dinilai menambah sinyal likuiditas dan kemampuan perusahaan membayar kewajiban.
Arus Keluar ETF dan Tekanan Makro
Tekanan makroekonomi turut memperberat penurunan harga. Kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS dan menyusutnya likuiditas global menjadi faktor yang menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Produk investasi spot Bitcoin ETF yang tercatat di bursa AS mengalami arus modal keluar terbesar sejak peluncuran pada Januari 2024. Data menunjukkan investor menarik lebih dari US$4,1 miliar dari 13 produk reksa dana berbasis kripto sepanjang Juni 2026.
David Grider dari Finality Capital Partners memperkirakan harga Bitcoin belum menyentuh titik dasar. “Saya rasa kita belum akan melihat titik dasar (bottom) hingga bulan September atau Oktober, baik untuk Bitcoin maupun sebagian besar aset digital lainnya,” ujarnya.
Grider menambahkan kemungkinan koreksi lanjutan. “Jika harga menyusut hingga US$40.000 atau US$45.000, menurut saya itu adalah hal yang masuk akal.”
Pergerakan kali ini turut merefleksikan pergeseran struktur pasar setelah persetujuan dokumen spot Bitcoin ETF oleh regulator AS awal tahun ini. Kehadiran institusi keuangan tradisional dianggap membuat pasar lebih matang sehingga penurunan harga tidak disertai kepanikan sistemik yang memicu kebangkrutan massal seperti pada siklus sebelumnya.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
