AchmadNurHidayat.ID — JAKARTA — Pelatih timnas Brasil Carlo Ancelotti berjanji membangun “siklus baru” bagi Selecao setelah timnya tersingkir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Kekalahan itu, menurutnya, akan menjadi pijakan untuk menata kembali skuat menuju kompetisi berikutnya.
Brasil kalah 1-2 dari Norwegia di babak 16 besar di New Jersey. Dua gol Erling Haaland pada babak kedua membawa Norwegia lolos ke perempat final untuk menghadapi Inggris, sedangkan gol Brasil tercipta lewat eksekusi penalti Neymar pada masa tambahan waktu.
Hasil ini menandai pencapaian terburuk Brasil di Piala Dunia sejak mereka gagal lolos dari fase grup pada 1966. Ancelotti, yang baru beberapa bulan lalu meneken perpanjangan kontrak selama empat tahun, menyatakan tim pelatih akan terus bekerja untuk mempersiapkan masa depan tim nasional.
“Yang ingin saya katakan adalah kami akan terus melakukan pekerjaan kami dan mencari ide-ide baru,” kata Ancelotti pada Senin (6/7/2026).
Pelatih asal Italia itu mengakui kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan publik dan pemain, namun menegaskan perlunya reaksi yang tepat dari tim.
“Semua orang sangat sedih, begitu pula para penggemar. Wajar untuk memiliki perasaan seperti itu, tetapi yang harus kita lakukan adalah bereaksi dengan benar,” ujar Ancelotti.
Ia menyebut Brasil memiliki talenta luar biasa dan pantas mendapatkan apresiasi atas usaha yang ditunjukkan. Meski merasa Brazil tidak layak kalah dari Norwegia, Ancelotti menerima hasil tersebut sebagai bagian dari olahraga.
“Itulah sepak bola, itulah olahraga. Terkadang Anda harus mengatasi kesedihan dan rasa pahit kekalahan. Saya sudah sangat terbiasa dengan itu, tetapi kami akan menerima kekalahan ini dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk siklus baru,” tambahnya.
Regenerasi Lini Tengah
Salah satu fokus utama proses pembenahan menurut Ancelotti adalah lini tengah. Hal ini menjadi penting setelah Neymar mengumumkan akan pensiun dari tim nasional pasca-Piala Dunia, sementara Casemiro dan Fabinho diperkirakan akan mengikuti langkah serupa.
“Kita harus memikirkan masa depan, tetapi sangat jelas bahwa di lini tengah, saya pikir kita harus menggeser beberapa pemain,” kata Ancelotti.
Ia menekankan kebutuhan akan talenta muda dan pemain berlevel tinggi yang masuk ke sepak bola Brasil untuk memperkuat tim nasional.
“Tim nasional ini memiliki kelompok pemain yang sangat solid, pemain-pemain hebat yang terus bermain dan beberapa pemain baru yang bisa masuk,” tegasnya.
Keputusan Penalti
Ancelotti juga menjelaskan keputusan menunjuk Bruno Guimarães sebagai eksekutor penalti pada babak pertama yang gagal menghasilkan gol. Menurutnya, pilihan itu berdasar pada analisis statistik terhadap para pemain yang tersedia.
“Kami melakukan analisis statistik untuk para pemain dan berdasarkan itu, Raphinha adalah pilihan terbaik (sebagai penendang penalti),” kata Ancelotti.
“Orang terbaik adalah Raphinha, lalu Neymar, dan setelah itu, Bruno Guimarães. Setelah Bruno, Martinelli, jadi kami memilih Bruno Guimarães karena kami merasa dia akan menjadi yang terbaik,” pungkasnya.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
