— Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan penguatan selama tiga hari berturut-turut dengan penutupan di zona hijau dan aliran beli bersih (net buy) dari investor asing.

Pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026, saham BBCA tercatat melesat 4,31% menjadi Rp 6.050 per saham. Aktivitas perdagangan mencapai 200,47 juta saham dengan frekuensi 38.215 kali dan nilai transaksi sebesar Rp 1,21 triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy senilai Rp 193,76 miliar.

Sebelumnya, pada 1 Juli 2026 saham BBCA naik 0,90% dengan net buy asing Rp 135,77 miliar. Pada 2 Juli, harga saham emiten perbankan swasta ini melonjak 3,57% dengan net buy asing Rp 143,17 miliar.

Kenaikan akhir pekan menjadi kebalikan dari tekanan jual asing yang dialami saham BBCA pada awal minggu sebelumnya, ketika harga turun 4,05% pada 29 Juni dan anjlok 6,33% pada 30 Juni.

Dukungan Analis dan Katalis Moneter

CGS International Sekuritas menyatakan saham BBCA ditutup naik 4,31% pada Jumat setelah sempat menyentuh kenaikan 6,03% dalam perdagangan hari tersebut.

Dalam review trading untuk perdagangan Jumat, CGS menilai “katalis saham BBCA diuntungkan oleh kebijakan moneter ketat oleh Bank Indonesia karena perseroan mempunyai likuiditas paling longgar (Mei 2026 : LDR = 77%).”

MNC Sekuritas juga mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor perbankan, dengan alasan valuasi yang dianggap telah mencerminkan potensi risiko penurunan, imbal hasil dividen yang masih menarik, serta kualitas aset yang stabil.

MNC Sekuritas menempatkan BBCA sebagai saham pilihan utama dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 8.700. Analis tersebut menyebut dukungan BBCA berasal dari “profil laba yang defensif serta kualitas aset terbaik di kelasnya.”