AchmadNurHidayat.ID — Para analis memproyeksikan permintaan kuat dari bank sentral dan kebutuhan diversifikasi investor dapat mendorong kenaikan harga emas hingga level US$5.500 per troy ounce pada tahun mendatang. Proyeksi itu menempatkan kemungkinan kenaikan signifikan dalam beberapa bulan ke depan, meski disertai risiko koreksi.
Dalam laporan yang dirilis pada awal Juli 2026, para ahli memperkirakan harga emas batangan berpotensi naik ke kisaran US$4.750–US$5.500 per troy ounce dalam 6–9 bulan (skenario dasar 70%). Mereka juga menyoroti skenario kenaikan alternatif yang menempatkan fluktuasi di sekitar US$4.000–US$4.750/troy ounce (skenario kenaikan 25%).
Risiko Koreksi Dan Hambatan Taktis
Meski optimistis, para ahli juga memperingatkan risiko penurunan ke level support US$3.750–US$4.000 per troy ounce. Mereka mencatat bahwa penguatan dolar AS memberi tekanan pada sentimen investor sepanjang Juni.
“Harga emas spot turun 11,7% hingga ke level support US$4.000/troy ounce secara sporadis,” tulis para analis tersebut. Catatan lain menunjukkan bahwa, secara penyesuaian risiko, emas masih mengungguli perak, bitcoin, dan beberapa komoditas spot pada bulan sebelumnya.
Arus Dana Dan Ekspektasi Suku Bunga
ETF emas yang tercatat di Amerika Serikat mengalami penarikan dana bulanan sekitar US$5,3 miliar, setelah arus yang relatif seimbang pada April dan Mei. Kondisi ini tercatat bersamaan dengan moderasi harga energi dan ekspektasi suku bunga yang masih menunjukkan kemungkinan kenaikan di masa depan.
“Meskipun harga minyak mentah Brent telah turun di bawah target US$80 per barel, para pedagang suku bunga masih mengharapkan The Fed untuk memperketat kebijakan. Data pasar tenaga kerja AS yang pulih dan fokus Ketua The Fed pada target inflasi 2% kemungkinan telah meningkatkan ambang batas untuk pemotongan suku bunga dalam jangka pendek,” kata para ahli.
Dorongan Struktural Untuk Emas
Para analis menilai hambatan taktis tersebut dapat diimbangi oleh dorongan struktural yang mendukung logam mulia. Mereka berpendapat siklus kenaikan harga emas kemungkinan berlanjut, meskipun perjalanannya mungkin lebih bergelombang dibandingkan 2024–2025.
Selain itu, lonjakan beban utang global yang mencapai rekor US$353 triliun pada paruh pertama 2026 disebut sebagai faktor pendorong permintaan emas. “Porsi utang pemerintah yang mendekati sepertiga dari angka tersebut, juga merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Dorongan fiskal dan inflasi yang aktif seharusnya terus mendukung permintaan emas sebagai lindung nilai moneter,” ujar para analis.
Permintaan Fisik Tetap Kuat
Para ahli mencatat permintaan global untuk emas fisik tetap kuat, terutama dari investor ritel di China dan bank sentral di pasar negara berkembang. Kondisi ini, menurut mereka, menjadi salah satu pilar yang menopang prospek harga emas ke depan.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
