AchmadNurHidayat.ID — VinFast Indonesia memasang target agresif mencapai pangsa pasar sekitar 5% di pasar kendaraan listrik nasional pada 2026. Saat ini, perusahaan mencatat pangsa pasar di kisaran 1,7-1,8%, sehingga perlu mempercepat sejumlah program untuk melipatgandakan kinerjanya dalam beberapa bulan mendatang.
Perusahaan tidak hanya mengandalkan peluncuran produk baru, tetapi juga memperkuat ekosistem kendaraan listrik melalui pembangunan infrastruktur pengisian daya, skema battery subscription, serta jaminan nilai jual kembali kendaraan.
Optimisme Di Tengah Pelemahan Pasar
Head of Training Department VinFast Indonesia Rinaldi Ramdani menyatakan target tersebut menantang namun realistis. “Saat ini market share kami berada di kisaran 1,7-1,8%. Target kami sekitar 5% market share. Target tersebut memang cukup agresif, tetapi kami optimistis karena ekosistem VinFast di Indonesia terus berkembang,” ujarnya dalam acara Media Drive VF MPV 7 pada Kamis (2/7/2026).
Rinaldi mengatakan tren kendaraan listrik masih tumbuh meski pasar otomotif keseluruhan melemah. Menurut dia, konsumen kini cenderung mencari kendaraan dengan biaya operasional lebih rendah, sementara efisiensi penggunaan menjadi faktor pendorong utama pergeseran ke EV. “Kalau melihat pasar EV sendiri, kami optimistis dibandingkan tahun lalu. Memang total pasar otomotif menurun, tetapi kalau dibedah lebih dalam, pasar kendaraan listrik justru meningkat. Pada akhirnya yang paling dicari konsumen Indonesia adalah penghematan biaya,” kata Rinaldi.
Tiga Pilar Strategi VinFast
Untuk merealisasikan target 5% market share, VinFast menyiapkan tiga strategi utama. Pertama, mempercepat pembangunan ekosistem pengisian daya. Perusahaan menargetkan hingga 40.000 charging station di Indonesia. Saat ini sekitar 3.000 titik telah beroperasi dan sekitar 1.600 unit masih dalam pembangunan.
Rinaldi memperkirakan realisasi yang paling realistis hingga akhir tahun berada di kisaran 35.000-36.000 charging station, dengan fokus awal di Pulau Jawa lalu diperluas ke Sumatera, Kalimantan, dan Bali. “Kami melihat pertumbuhan infrastruktur harus berjalan seiring dengan peningkatan jumlah kendaraan listrik VinFast di Indonesia,” ujarnya.
Kedua, VinFast menghadirkan program battery subscription sehingga konsumen tidak menanggung risiko biaya penggantian baterai yang selama ini menjadi hambatan pembelian EV. Rinaldi menyebut harga baterai bisa mencapai 50-60% dari harga kendaraan dan mempengaruhi nilai jual kembali.
Melalui program tersebut, jika kesehatan baterai turun hingga 70%, VinFast akan mengganti baterai dengan unit yang kondisinya masih baik sesuai ketentuan program.
Ketiga, perusahaan menawarkan Resale Value Guarantee atau jaminan nilai jual kembali selama empat tahun, berupa buyback guarantee mulai dari 80% hingga 66% tergantung usia kendaraan. “Kami melihat tiga program tersebut mampu mengurangi kekhawatiran masyarakat terhadap kendaraan listrik sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen,” kata Rinaldi.
Target Penjualan dan Performa
VinFast mengakui kondisi ekonomi menantang, namun optimistis meningkatkan penjualan sepanjang 2026. Secara total, volume penjualan perusahaan turun sekitar 12% secara tahunan, salah satu penyebabnya adalah pasokan besar untuk armada GSM pada tahun sebelumnya.
Namun jika dilihat dari sisi penjualan ritel, VinFast mencatat pertumbuhan sekitar 3-5% dibandingkan tahun lalu. Rinaldi menyebut line-up baru seperti VF MPV 7 dan model lainnya diharapkan mendorong penjualan. “Tahun ini kami optimistis. Kami memiliki line-up baru yaitu MPV 7 dan beberapa model lainnya yang diharapkan mampu mendorong penjualan,” ucapnya.
Perusahaan juga memperpanjang program free charging hingga Maret 2029, sebelumnya hanya berlaku sampai 2028. Menurut VinFast, kebijakan ini memberikan nilai tambah signifikan karena biaya energi menjadi salah satu alasan utama peralihan ke kendaraan listrik.
VF MPV 7: Fokus Segmen Keluarga
VinFast menilai VF MPV 7 memiliki prospek kuat mengingat karakter pasar Indonesia yang masih didominasi kendaraan keluarga tujuh penumpang. Rinaldi menyatakan segmen MPV memiliki daya tahan tinggi dan tetap menjadi pilihan utama konsumen.
Perusahaan menargetkan penjualan VF MPV 7 sekitar 1.000 hingga 1.200 unit per bulan, atau kumulatif sekitar 6.000-7.000 unit hingga akhir 2026. “Target kami sekitar 1.000 sampai 1.200 unit per bulan. Angka tersebut akan terus dievaluasi sesuai perkembangan permintaan pasar maupun kebijakan pemerintah,” ujar Rinaldi.
Saat ini VF MPV 7 belum menjadi kontributor utama karena baru diluncurkan beberapa bulan lalu; posisi puncak masih ditempati VF 3 yang menyumbang sekitar 73% dari total penjualan ritel VinFast.
Permintaan dan Pemenuhan Produksi
Hingga laporan ini disampaikan, VF MPV 7 telah mengantongi sekitar 1.600 surat pemesanan (SPK). Dari jumlah tersebut, sekitar 400 unit telah dikirimkan ke konsumen, sedangkan sisanya masih dalam proses produksi dan pengiriman seiring beroperasinya fasilitas manufaktur VinFast di Indonesia yang mulai beroperasi pada Desember lalu.
Rinaldi menegaskan saat ini prioritas perusahaan adalah memenuhi seluruh pesanan agar waktu tunggu konsumen dapat dipersingkat. “Saat ini fokus kami adalah memenuhi seluruh pesanan tersebut secepat mungkin karena pabrik kami baru mulai beroperasi pada Desember lalu,” tutupnya.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
