AchmadNurHidayat.ID — Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar, catatan pertama yang membukukan defisit setelah 72 bulan berturut-turut surplus sejak Mei 2020.
Perubahan arah neraca ini utamanya dipengaruhi oleh kinerja perdagangan produk minyak dan gas (migas) yang tercatat mengalami defisit signifikan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menyatakan neraca perdagangan migas pada Mei 2026 tercatat defisit sebesar US$ 3,76 miliar.
“Defisit komoditas migas terutama berasal dari hasil minyak dan minyak mentah,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS pada Rabu (1/7/2026).
Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas pada bulan yang sama masih mencatat surplus sebesar US$ 2,15 miliar. Penyumbang utama surplus nonmigas termasuk bahan bakar mineral; lemak dan minyak hewan nabati; serta besi dan baja.
Nilai ekspor pada Mei 2026 mencapai US$ 23,2 miliar, turun 5,73% dibanding Mei 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh menurunnya nilai ekspor nonmigas.
Sebaliknya, nilai impor pada Mei 2026 mencapai US$ 24,81 miliar, atau naik 22,16% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ateng menyebut kenaikan impor tahunan terutama didorong peningkatan impor nonmigas.
Neraca Kumulatif Januari–Mei 2026
Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari–Mei 2026 masih menunjukkan surplus sebesar US$ 4,03 miliar. Surplus ini ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 16,31 miliar, sedangkan komoditas migas mengalami defisit kumulatif sebesar US$ 12,28 miliar.
Berdasarkan mitra dagang, surplus total (migas dan nonmigas) terbesar tercatat terhadap Amerika Serikat (US$ 7,03 miliar), India (US$ 5,29 miliar), dan Filipina (US$ 3,58 miliar). Sebaliknya, tiga negara penyumbang defisit terbesar adalah Tiongkok (US$ 10,17 miliar), Australia (US$ 3,99 miliar), dan Singapura (US$ 3,83 miliar).
Untuk neraca nonmigas, surplus terbesar tercatat terhadap Amerika Serikat (US$ 8,47 miliar), India (US$ 5,34 miliar), dan Filipina (US$ 3,42 miliar). Negara-negara yang menyumbang defisit nonmigas terbesar adalah Tiongkok (US$ 10,73 miliar), Australia (US$ 3,62 miliar), dan Prancis (US$ 1,29 miliar).
Komoditas Nonmigas Penyumbang Surplus
Untuk periode Januari–Mei 2026, rincian komoditas nonmigas yang menyumbang surplus adalah sebagai berikut:
- Lemak dan minyak hewan nabati: US$ 13,92 miliar
- Bahan bakar mineral: US$ 10,88 miliar
- Besi dan baja: US$ 7,09 miliar
- Nikel dan barang daripadanya: US$ 5,36 miliar
- Alas kaki: US$ 2,72 miliar
Sementara komoditas nonmigas yang menjadi penyumbang defisit pada periode yang sama adalah:
- Mesin dan peralatan mekanis: US$ 12,74 miliar
- Mesin dan perlengkapan elektrik: US$ 6,23 miliar
- Plastik dan barang dari plastik: US$ 3,74 miliar
- Serealia: US$ 1,62 miliar
- Instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis: US$ 1,56 miliar
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
