Oleh Achmad Nur Hidayat, MPP. (Ekonom dan Anggota Dewan Pakar TIMNAS AMIN)

Calon Presiden (Capres) Koalisi Perubahan Anies Baswedan melanjutkan kampanyenya dengan penuh optimisme di wilayah Sumatra Selatan. Dengan tiba di Lubuklinggau, Anies menyoroti antusiasme masyarakat terhadap perubahan di Sumatra Selatan, mengakui bahwa masyarakat selalu berada di pihak perubahan.

Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda strategis AMIN, yang dikenal sebagai ‘8 Sayap Kemajuan,’ yang merinci visi Anies untuk mengangkat Sumatra sebagai Jembatan Menuju Komunitas Global.

Agenda ini menandai komitmen kuat untuk merangsang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menyeluruh di seluruh pulau tersebut.

Agenda strategis AMIN Sumatra Jembatan Menuju Komunitas Global

Pertama, Anies menekankan pada peningkatan kualitas dan stabilitas harga jual dalam industri karet dan sawit. Langkah ini diarahkan untuk memberdayakan sektor ini secara berkelanjutan, memberikan dampak positif terhadap ekonomi Sumatra.

Sejalan dengan itu, peningkatan konektivitas lintas Sumatra menjadi fokus kedua, dengan memperkuat peran jalan tol, jalur kereta api, dan penyeberangan Selat Sunda untuk menjadikan Sumatra lebih terintegrasi dengan Jawa.

Selanjutnya, Anies berkomitmen untuk meningkatkan panjang dan kualitas jalan nasional, provinsi, kabupaten, dan desa.

Ini bertujuan untuk memastikan bahwa potensi ekonomi di seluruh Sumatra dapat dimanfaatkan secara merata dan optimal.

Menjadikan Kuala Tanjung sebagai simpul internasional di wilayah Indonesia Bagian Barat menjadi prioritas keempat, memperkuat posisi Sumatra dalam konteks global.

Poin kelima dan keenam menyoroti penguatan industri/ekonomi maritim di sekitar Selat Malaka dan mewujudkan konektivitas Sumatra-Jawa-ASEAN.

Anies juga berkomitmen untuk menyederhanakan dan memudahkan proses legalitas tanah ulayat/tanah adat, memastikan kejelasan dan keadilan dalam kepemilikan tanah.

Selanjutnya, Anies menitikberatkan pada pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sumatra sebagai pusat produksi berstandar global yang ramah lingkungan.

Langkah ini akan menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Pencegahan kebakaran hutan secara masif dan sistematis menjadi fokus ketujuh, menunjukkan komitmen pada keberlanjutan lingkungan.

Poin kedelapan hingga keenambelas merinci agenda strategis Anies dalam mengelola sumber daya alam Sumatra, mencakup kepastian kedaulatan dan keamanan nasional di wilayah Natuna, pemanfaatan migas, batubara, dan sumber daya mineral lainnya, serta percepatan eksplorasi dan eksploitasi panas bumi.

Lebih lanjut, Anies ingin mengembangkan industri pariwisata dan industri halal dengan memanfaatkan potensi budaya, keindahan alam, dan kreativitas, melibatkan UMKM lokal. Sementara itu, upaya apresiasi, pelestarian, dan pengembangan budaya Sumatra menjadi bagian integral dari visi ini, membawa budaya lokal ke tingkat nasional dan internasional.

Poin terakhir memfokuskan pada meningkatkan produktivitas dan ketahanan pertanian dan perikanan berkelanjutan dengan penerapan teknologi berbasis komoditas unggulan.

Demi meningkatkan kualitas manusia, Anies menekankan peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan, termasuk keselarasan pendidikan dengan potensi lokal.

Dengan demikian, Agenda strategis AMIN Sumatra Jembatan Menuju Komunitas Global dalam ‘8 Sayap Kemajuan,’ yang diusung oleh Anies Baswedan, bukan sekadar retorika, melainkan panduan terstruktur yang mencakup semua aspek kehidupan di Sumatra.

Memberikan harapan autentik dan mendasar untuk Indonesia, pendekatannya yang berfokus pada pemerataan dan keadilan wilayah menunjukkan komitmen nyata untuk membangun negeri.