NERACA, Jakarta – Harga cabai rawit merah di beberapa wilayah di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Tren kenaikkan harga cabai rawit merah sudah mencapai Rp100.000 per kg. Adapun kenaikan harga cabe rawit yang kini terjadi bukanlah suatu kejadian baru. Hal ini telah berulang kali terjadi, dan setiap kali terjadi, masyarakat, khususnya para penjual makanan yang menggunakan cabe rawit sebagai bahan bumbu utama, harus menanggung beban biaya ekonomi yang semakin meningkat. Tentunya, kondisi ini sangat memberatkan, terlebih di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih akibat pandemi.
Achmad Nur Hidayat, CEO Narasi Institute mengatakan, cabe rawit merupakan salah satu komoditas yang memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu bahan bumbu utama dalam berbagai jenis masakan, cabe rawit menjadi kebutuhan pokok yang tak tergantikan. Namun, kenaikan harga cabe rawit yang kerap terjadi telah menjadi persoalan yang serius dan perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. “Pemerintah harus tangani kenaikan harga kenaikan cabe karena ini bukan kali pertama tapi terjadi berulang-ulang,” ujarnya kepada Neraca, Rabu (1/11).
Achmad yang juga ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta mengungkapkan, Salah satu persoalan kenaiakan ini karena lemahnya rantai pasokan bahan baku cabe rawit. Dengan adanya Badan Pangan Nasional (BAPANAS), seharusnya kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa sebelumnya dan mencari solusi permanen untuk mengatasi masalah ini. “Namun, hingga kini, rantai pasokan bahan baku cabe rawit belum juga mengalami perbaikan yang signifikan. Makanya harga cabe kadang mengalami lonjakan yang tinggi,” ujarnya.
Untuk itu, menurut Achmad, pemerintah harus berperan aktif dan serius dalam mengatasi masalah ini. Kementerian Ekonomi harus berinisiatif membangun rantai pasokan makanan yang lebih kuat dan efisien, sehingga masalah kenaikan harga cabe rawit dapat diatasi dengan lebih baik. Selain itu, pemerintah juga harus memiliki program untuk penguatan cabe yang lebih baik.
Program ini dapat melibatkan pihak-pihak terkait, seperti petani, distributor, hingga pedagang, untuk menciptakan sistem pasokan yang lebih efektif dan efisien. “Melihat kejadia yang terus berulang-ulang, publik tentu sangat berhadap adanya program yang lebih baik dan secara kongkret di implementasikan, diharapkan rantai pasokan cabe rawit dan komoditas pangan lainnya dapat diperbaiki. Demi menjaga ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa” ujarnya.
Menyikapi kenaikan harga cabai yang terus menanjak itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong gerakan penanaman cabai melalui Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) atau menanam cabai di sekitar pekarangan.
Sebagai informasi, KRPL dibangun dalam satu kawasan dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan. Digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan peningkatan pendapatan, yang pada akhirnya kesejahteraan masyarakat meningkat.
Langkah itu digalakkan menyusul mulai naiknya harga cabai rawit merah yang tembus hingga Rp101.000 per kg di Maluku, dan Pasar Lemabang di Palembang yang mencapai Rp100.000 per kg (data PIHPS). “Kita galakkan KRPL itu solusi terbaik. Cabai tanam di pekarangan sayur dan sebagainya,” kata Amran.
Sementara itu, Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto mengungkapkan salah satu penyebab mahalnya harga cabai karena penurunan produksi, dampak adanya kemarau panjang atau El Nino. Namun dia meyakini kenaikan harga cabai tidak akan berlangsung lama, sebab di beberapa daerah sudah mulai turun hujan.
“Ya biasa lah, kan sekarang produksi agak turun karena El Nino, ini agak panjang kan kemaraunya. Kalau kemarau agak panjang ya biasa lah, semuanya akan mengalami seperti itu. Tapi sebentar lagi akan mengalami kenaikan (produksi),” ujarnya.
“Ya kalau hujan mulai turun, orang menanam cabai mulai banyak. Prognosa kita kemarin sudah saya sampaikan di rapat pimpinan bahwa produksi kita tahunan surplus untuk cabai, cuma bulanannya agak berfluktuasi. Kadang produksi tinggi, kadang agak turun. Itu karena musim,” imbuhnya.
Saat ini hampir di seluruh daerah, lanjut dia, rata-rata mengalami penurunan produksi yang disebabkan oleh kemarau panjang El Nino. “Tapi ini yang sedang kita dorong, agar produksinya bisa tetap ada,” tukasnya.
Sumber: neraca.co.id


