Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-15 Brazil, Rusia, India, China and South Africa (BRISC) di Johannesburg, Afrika Selatan menjadi pergeseran kekuatan geopolitik yang signifikan.

Menurut Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPNVJ dan CEO Narasi Institute Achmad Nur Hidayat, seiring perkembangan geopolitik BRISC akan menguat dan menantang dominasi Barat.

Dinamika baru ini menjadi semakin jelas, apalagi dari 40 negara yang menunjukkan ketertarikannya, 22 di antaranya secara formal mengajukan untuk bergabung.

Achmad Nur Hidayat menilai, meski Indonesia hadir sebagai tamu undangan dalam kapasitasnya sebagai ketua ASEAN, namun menunjukkan potensi untuk bergabung di masa depan.

“Namun, apa yang mendorong negara-negara ini untuk bergabung dengan BRICS? Jawabannya terletak pada tuntutan keseimbangan yang lebih adil dalam sistem keuangan dan perdagangan internasional,” ujar Achmad Nur, Kamis, 24 Agustus 2023.

Muak dengan Buatan Barat

Sejarah modern sistem keuangan internasional dari Konferensi Bretton Woods pada tahun 1944 telah menciptakan dominasi Barat, khususnya dolar AS.

Namun dominasi tersebut mulai tergoyang, khususnya usai keputusan Mantan Presiden AS, Richard Nixon yang mengungkap kelemahannya pada 1971.

Rusia, sebagai salah satu anggota BRICS juga telah menunjukkan ketidakpuasannya melalui aksi-aksi seperti aneksasi Krimea dan intervensi di Ukraina.

“Ini adalah bukti nyata dari ketegangan geopolitik yang meningkat dan tatanan dunia pasca-perang yang kini menghadapi ujian,” tuturnya.

Bangun Tatanan Multipolar

Achmad menekankan dengan memahami keputusan dan kebijakan masa lalu, perumusan solusi dapat lebih berkeadilan Apalagi jika diplomasi yang menjadi prioritas.

“Dalam era globalisasi yang semakin kompleks, dialog terbuka, negosiasi, dan kerjasama multilateral menjadi kunci untuk menyelesaikan ketegangan,” tuturnya.

Diversifikasi Hubungan Ekonomi

Dalam mengurangi ketergantungan dan mencegah dominasi ekonomi, Achmad menilai bahwa negara-negara juga harus mencari kemitraan baru sambil memperkuat yang sudah ada.

Selain itu, masyarakat global juga harus mendapatkan informasi tepat tentang isu-isu geopolitik agar memahami dan mendukung solusi yang berorientasi pada perdamaian.

Termasuk yang penting yakni mempromosikan multilateralisme dan investasi dalam teknologi serta inovasi.

“Dengan pemahaman, diplomasi, dan kerja sama, kita dapat bersatu untuk menciptakan dunia yang lebih damai, stabil, dan makmur, tanpa dominasi dari kekuatan dunia tertentu,” tandasnya.

Sumber: koridor.co.id