Kamis, 19 Januari 2023

Warta Ekonomi, Jakarta – Ekonom sekaligus pakar kebijakan publik Narasi Institute Achmad Nur Hidayat mengatakn bentrok Morowali bukan persoalan mikro yang bisa diatasi hanya di level perusahaan, melainkan persoalan makro yang membutuhkan perbaikan dari segi kebjakan pemerintah.

Sebab, bentrok di PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) merupakan imbas dari ketimpangan sosial yang lahir dari kebijakan pemerintah. Pemerintah membiarkan tenaga kerja asing (TKA), dalam konteks ini pekerja China, masuk ke Indonesia dan lebih mendominasi dibandingkan pekerja lokal.

“Akar dari bentrok ini bukan karena PT GNI yang melakukan kesalahan administratif atau tidak profesional. Itu sangat mikro sekali,” kata Achmad dalam video yang diunggah di kanal Youtube pribadinya, dikutip Kamis (19/1/2023).

Menurut dia, bentrok Morowali perlu dilihat dari kacamata mikro. Berdasarkan informasi yang ia kumpulkan, Achmad menemukan pekerja lokal mendapat upah lebih rendah daripada pekerja asing. Ketimpangan ini kemudian menumbukan sentimen negatif dari masyarakat lokal lantaran merasa pemerintah merebut hak kerja mereka di tanah mereka sendiri.

“Mereka [masyarakat lokal] berpikir, ‘Mereka [TKA] mengeksploitasi tanah kami, tapi kenapa kami tidak lebih sejahtera dibandingkan mereka?'” jelas Achmad.

Problem ketimpangan sosial antara TKA dan TKI pada dasarnya merupakan isu yang terus berlanjut sejak masa Orde Baru. Namun, lanjut Achmad, dahulu pemerintah hanya menerima bantuan teknologi. Baru kali ini, pemerintah yang berada di bawah kepemimpinan Jokowi menerima bantuan berupa uang.

“Saya ingin katakan dengan terang benderang bahwa kesalahan pemerintah adalah ketika mengambil tenaga kerja asing yang sifatnya¬†low skill¬†datang ke Indonesia,” pungkas dia.

Sumber: wartaekonomi.co.id